Dengung mesin pendingin sentral mendominasi seluruh penjuru ruangan.Pukul tujuh malam tepat. Gedung utama Diwangsa Corp sudah kosong melompong. Para staf divisi telah pulang sejak dua jam lalu, lari dari atmosfer beracun yang menguar pekat di lantai eksekutif ini.Aku duduk menyilang kaki di sofa kulit sudut ruangan.Punggungku tegak lurus. Kedua tanganku bertumpu rileks di atas pangkuan. Mataku tidak lepas dari sosok raksasa di depanku.Arjuna berdiri mematung menghadap kaca jendela.Pria itu menatap kelap-kelip lampu kendaraan di jalanan Sudirman yang merayap pelan. Kemeja putihnya terlihat kusut. Otot bahunya menegang kaku, menciptakan siluet ancaman murni di bawah pencahayaan ruangan yang sengaja diredupkan.Tiga puluh menit menuju kedatangan Bramantasya."Supir sudah menunggu di basemen," ucap Arjuna memecah kesunyian. Suaranya serak dan sangat datar. Dia tidak memutar kepalanya sama sekali."Biar dia menunggu," balasku pendek."Pulanglah sekarang, Alea.""Kau sedang membuang lu
Dernière mise à jour : 2026-04-21 Read More