Mesin sedan Mercedes hitamku menderu halus.Suhu pendingin kabin terasa membekukan tulang. Aku masih duduk di balik kemudi, terjebak di area parkir VIP bawah tanah. Raka Wibisana baru saja kutinggalkan menelan kekalahan verbalnya di luar sana.Layar ponselku menyala terang menabrak kegelapan mobil.Notifikasi email prioritas dari divisi intelijen masuk. Subjeknya dicetak tebal dan mematikan. RE: Lokasi Kemang.Jari telunjukku tidak membuka email itu. Aku menekan tombol panggilan cepat. Menyambungkan garis aman ke Hendra detik itu juga."Kau mengirimiku email di tengah krisis begini, Hendra?" tembakku tanpa basa-basi saat telepon tersambung."Data grafisnya terlalu rumit untuk dibacakan, Bu Alea." Suara kepala intelijen itu terdengar sangat siaga."Aku tidak butuh grafik. Aku butuh kesimpulan." Aku mencengkeram setir berlapis kulit. "Ringkas untukku. Sekarang."Terdengar suara ketukan keyboard dari ujung telepon."Kafe Roastery Kemang itu bukan tempat sembarangan," papar Hendra cepat.
Read more