Sabtu pagi. Teras belakang Penthouse.Udara Jakarta sedikit lebih bersih hari ini, sisa hujan semalam meninggalkan aroma tanah basah yang samar. Matahari pukul sembilan pagi tidak membakar kulit, hanya memberikan kehangatan yang stabil di atas lantai pualam teras.Elang berjongkok di atas karpet rumput sintetis.Balita itu bekerja dengan konsentrasi penuh. Lidahnya sedikit menjulur di sudut bibir, sebuah tanda bahwa seluruh sistem sarafnya sedang fokus pada satu titik koordinat. Di depannya, terdapat tiga pot plastik kecil berwarna hitam dan satu kantong plastik berisi tanah pupuk.Tangan kecilnya yang kotor meraih segenggam benih kacang hijau. Satu per satu, ia memasukkannya ke dalam lubang kecil di tengah tanah.Arjuna dan aku duduk di meja teras, tepat dua meter di belakangnya. Kami tidak mengintervensi. Kami membiarkan Elang menyelesaikan proyek dunianya sendiri tanpa bantuan orang dewasa."Dia serius sekali memasukkan tanah itu," bisik Arjuna.Suara Arjuna rendah, nyaris teredam
Last Updated : 2026-06-09 Read more