Cahaya matahari sore yang berwarna tembaga merayap perlahan melintasi meja kerjaku.Aku menyandarkan punggung ke kursi, membiarkan kehangatan semu itu menerpa separuh wajahku. Ponselku menempel di telinga, menyalurkan dengung statis yang sangat halus dari seberang panggilan.Di ujung garis sana, Raka Wibisana terdiam.Itu adalah jeda yang sangat tidak biasa. Raka adalah pria yang terbiasa bergerak di dalam medan perang. Otaknya didesain untuk merespons krisis, menyerang kelemahan lawan, dan memanipulasi celah hukum dengan urgensi yang mematikan.Sore ini, anjing perang itu sedang beristirahat."Kasus mediasi pertamaku baru saja ditutup, Al."Suara Raka akhirnya memecah keheningan. Terdengar berat, ditarik dari dasar tenggorokan yang kelelahan.Tidak ada nada kemenangan yang angkuh di sana. Tidak ada ego yang biasanya meledak-ledak menuntut pengakuan setelah berhasil menaklukkan lawan di meja perundingan."Dan kamu tidak terdengar seperti baru saja memenangkan sesuatu," balasku pelan.
Terakhir Diperbarui : 2026-06-11 Baca selengkapnya