"Kita tidak bisa diam. Dia memerasmu di lingkungan kampus, Arjuna!"Aku menggebrak meja kerja mahoni itu dengan kedua tangan. Suara hantaman kulit dan kayu menggema keras di ruang kantor tertutup ini.Arjuna duduk bersandar di kursinya. Dia tidak bergerak. Wajahnya datar, tapi otot rahangnya menonjol keras."Dia merekam pembicaraan kalian, Juna!" Suaraku naik satu oktaf. "Dia memegang kebungkamanmu sebagai bukti.""Dia tidak minta uang, Al," respons Arjuna datar. Suaranya rendah. Tanpa intonasi berlebihan."Lalu apa? Kita biarkan anak itu menyandera hidupmu?""Dia minta pengakuan." Arjuna menatapku lurus. "Dia menjebakku di ruanganku sendiri. Kalau kita lapor polisi sekarang karena pemerasan, kita cuma membuktikan omongannya benar.""Pemerasan tetap tindak kriminal!""Dan menutupi kecelakaan fatal yang melibatkan korban jiwa adalah kejahatan yang jauh lebih besar." Arjuna bangkit dari kursinya. Dia bertumpu pada meja, memajukan tubuhnya ke arahku. "Begitu polisi masuk, Radit akan meny
Last Updated : 2026-06-28 Read more