Lampu meja kerjaku adalah satu-satunya sumber cahaya di ruangan ini.Di depanku, dua tumpukan arsip tergeletak bersisian. Satu tumpukan berisi berkas-berkas lama dari era Prasetyo—kuning, berbau apek, dan penuh dengan rahasia yang membusuk. Satu tumpukan lagi adalah draf memoirku yang baru, bersih, dan tajam.Aku sedang melakukan inventarisasi. Bukan soal aset atau saham, tapi soal manusia.Suara langkah kaki mendekat. Arjuna masuk membawa dua botol air mineral. Dia meletakkan satu di samping tanganku tanpa suara."Masih belum tidur?" tanya Arjuna. Dia melonggarkan dasinya, bersandar pada pinggiran meja."Aku sedang menghitung nama, Juna," jawabku. Aku menunjuk kertas-kertas di depanku.Arjuna mencondongkan tubuh, membaca beberapa baris catatan yang kubuat. "Endang Rahayu. Laras Pertiwi. Dani.""Nama-nama yang mengubah cara kita memandang rumah ini," kataku pelan.Arjuna mengambil botol airnya, meneguknya setengah. "Soal Endang, Lukman baru saja mengirim foto lokasinya.""Plakatnya su
Last Updated : 2026-07-07 Read more