"Tidak ada alasan. Hanya ingin memberi saja," kata Rey datar, dia lebih dulu keluar dari kamar itu dan pergi ke kamarnya. Anara dan Zavi saling pandang, kemudian berjalan untuk melihat apa yang Rey beri. Mereka penasaran, namun ada setitik curiga yang tidak bisa terelakkan. Saat pintu ruangan itu terbuka, keduanya mendapati tempat tersebut tak lagi kosong. Ruangan itu kini tertata rapi, dipenuhi satu set perangkat karaoke lengkap serta beragam alat musik, piano, gitar, biola, dan beberapa lainnya. Di salah satu sudut, tersusun pula perlengkapan menggambar, seolah ruang itu disiapkan khusus untuk menampung segala bentuk kreativitas. Anara tersenyum antusias, dia masuk dan berjingkrak senang. "Zavi! Ayahmu sangat baik, dia memberi kita semua ini ... pasti karena ingin mengasah bakatmu agar lebih hebat!" Zavi tidak berekspresi, anak itu biasa saja dan malah menghela napas. "Benarkah? Tapi Mama, aku rasa ini bukan untuk bakat yang hebat, tapi beban yang berat! Ayah memberikan ini
Last Updated : 2026-01-15 Read more