"Hmm--" Anara mengembuskan napas pelan. Jantungnya berdebar, dia tidak bisa tidur karena Rey memeluknya sepanjang mereka berbaring. Rey memang tidak melakukan apa pun, tapi Anara yang biasa tidur bebas, dipeluk begini justru merasa pegal. Manis sih, hanya saja Anara belum terbiasa dengan Rey yang sedikit lunak dan baik begini padanya. Dia cukup waspada, menurutnya tidak ada lelaki yang benar-benar baik dan tulus. *** Anara berjalan lambat, niatnya agar tidak sejajar dengan Rey. Tapi lelaki itu mau menunggu langkahnya. Mereka berdua ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan. "Pak Rey, aku tahu kamu sibuk. Sebenarnya ... aku bisa periksa sendiri. Dokternya baik, kok." Anara bicara sambil sesekali menoleh, menunggu respon Rey. Sayangnya lelaki itu tetap berjalan tegap tanpa rasa segan sedikit pun, padahal sejak tadi Anara sudah membujuk untuk tidak perlu mengantarnya. "Kalau saya yang antar, kamu tidak perlu ikut antrian. Langsung masuk," kata Rey yang dibarengi dengan kenyat
Terakhir Diperbarui : 2026-02-04 Baca selengkapnya