Jennaira menghilang.Bukan sekadar keluar rumah. Bukan juga sekadar mematikan ponsel. Ia lenyap—tanpa jejak, tanpa pesan, tanpa sisa kehangatan yang biasanya masih tertinggal di udara.Pagi itu, Radiva berdiri di tengah ruang kerja apartemen yang terasa asing. Terlalu sunyi. Terlalu kosong. Cangkir kopi di meja tidak disentuh. Kursi di seberang meja, tempat Jennaira biasa duduk diam sambil menatap lantai—kosong."Cek ulang semua lokasi," perintah Radiva dingin, tapi suaranya retak tipis. "Bandara, stasiun, rumah sakit, penginapan kecil. Semua."Bima menelan ludah. "Sudah, Pak. Tidak ada. Seolah … dia menghilang dari dunia."Kalimat itu seperti pukulan telak. Radiva memejamkan mata. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar kehilangan sesuatu yang tidak bisa dibeli, dikendalikan, atau dipaksa kembali.Di tempat lain, Jennaira duduk di bangku kayu halte kecil yang hampir terlupakan kota. Jaket tipis membungkus tubuhnya, rambutny
Terakhir Diperbarui : 2026-01-14 Baca selengkapnya