Hujan deras yang mengguyur sektor utara seolah bersekongkol dengan rencana Radiva. Suara gemuruh air yang menghantam atap seng menyamarkan deru mesin jip hitam yang perlahan merapat di area vegetasi liar, tak jauh dari dinding pembatas gudang logistik. Di dalam kabin yang gelap, Radiva menarik tuas senjata semi-otomatismu, memastikan peluru pertama sudah naik ke kamar laras.Bima yang duduk di kursi pengemudi meletakkan teropong malamnya. "Pak, Joki sudah dilempar ke gerbang depan oleh anak-anak. Sesuai dugaan, fokus para penjaga Arkana pecah. Tiga orang bergerak ke depan untuk memeriksa.""Bagus. Berarti tersisa empat orang di dalam ruang utama dan pintu belakang," sahut Radiva, matanya menatap tajam ke arah pintu besi logistik yang sedikit berkarat. "Kita masuk lewat jalur belakang. Ingat, lumpuhkan dengan cepat. Jangan beri mereka waktu untuk menekan tombol alarm.""Siap, Pak. Anak-anak sudah bersiap di posisi masing-masing," bisik Bima seraya membuka pintu mobil dengan gerakan
اقرأ المزيد