Matahari pagi di gerbang utara istana Jin bersinar dengan angkuh, seolah menertawakan pemandangan yang tersaji di bawahnya. Long Yuan berdiri dengan wajah terlipat, memegang kendali kuda hitam perkasa kesayangannya. Di sampingnya, Mei berdiri dengan tangan bersedekap, wajahnya masih pucat akibat sisa alkohol semalam, namun matanya memancarkan api pemberontakan yang belum padam. "Naiklah," perintah Yuan singkat, suaranya sedingin es di puncak pegunungan. "Aku tidak mau. Dimana kereta kudaku? Dimana pelayanku?" balas Mei dengan nada yang tak kalah tajam. "Ibunda Permaisuri memerintahkan kita pergi sebagai utusan yang rendah hati, bukan sebagai rombongan sirkus yang manja. Satu kuda, satu perjalanan. Cepat naik sebelum aku melemparmu ke atas pelana seperti karung gandum," geram Yuan. Mei mendengus keras, namun ia tahu tidak ada gunanya berdebat dengan Naga yang sedang murka. Dengan bantuan pijakan yang kasar dari Yuan, Mei naik ke atas kuda. Yuan segera melompat ke belakangnya, mengu
더 보기