Gema langkah bot kulit Long Yuan di koridor batu paviliun terdengar seperti tabuh genderang perang yang tak sabar ingin segera ditabuh. Amarahnya masih mendidih, bibir bawahnya yang berdenyut akibat gigitan Shu Mei tadi menjadi pengingat yang konstan akan keras kepalanya sang istri. Namun, di balik amarah itu, terselip rasa sesak yang aneh, sebuah ketakutan yang tak pernah ia rasakan di medan tempur mana pun, ketakutan kehilangan wanita yang baru saja ia ancam itu. Tepat di gerbang paviliun, Yuan menghentikan langkahnya. Sosok Permaisuri Jin berdiri di sana, anggun namun dengan gurat kecemasan yang mendalam di wajahnya. Yuan segera merendahkan tubuhnya, memberikan penghormatan terakhir sebelum keberangkatan. "Ibunda," suara Yuan serak, sarat akan beban yang dipikulnya. "Pasukan sudah menunggu di gerbang kota. Aku harus menyusul Ayahanda ke perbatasan utara sebelum fajar benar-benar menyingsing." Permaisuri mendekat, jemarinya yang halus menyentuh pelindung bahu zirah putranya yang
더 보기