Lampu minyak yang tergantung di langit-langit penjara bawah tanah berayun pelan, menciptakan bayangan yang menari-nari di wajah Long Yuan yang kaku. Ia melangkah maju, suara sepatunya yang menghantam lantai batu terdengar seperti detak jam kematian bagi siapa pun yang mendengarnya. Namun, tatapannya tidak lagi tertuju pada Lin yang terkulai lemas, melainkan pada istrinya, Shu Mei, yang masih memegang jarum perak dengan tangan yang sedikit bergetar. Yuan berhenti tepat di hadapan Mei. Ia meraih dagu istrinya, mengangkat wajah wanita itu agar mata mereka bertemu. Senyum tipis, hampir seperti seringai nakal, muncul di sudut bibir sang Jenderal. "Luar biasa, Mei," bisik Yuan, suaranya parau namun penuh nada menggoda yang membuat bulu kuduk Mei meremang. "Siapa sangka, di balik wajah lembut yang selalu memohon ampun untuk rakyat jelata ini, tersimpan jiwa seorang algojo yang begitu dingin? Cara kau menekan luka itu... aku bahkan hampir merasa kasihan pada wanita tua ini." Mei menepis t
Baca selengkapnya