"Kau masih saja menanyakan hal yang jawabannya sudah tertulis di setiap hela napasku, Yuan," bisik Shu Mei sembari menyamankan posisinya dalam pelukan sang Kaisar. Long Yuan terkekeh, suara rendahnya menggetarkan dada tempat Mei bersandar. Mereka berdiri di balkon paviliun tertinggi istana, tempat di mana mereka bisa melihat seluruh kota Jin yang kini gemerlap oleh lampion perdamaian. Angin malam berhembus lembut, memainkan ujung rambut mereka yang kini sedikit bersentuh dengan warna perak kehidupan, namun gairah di mata mereka tidak pernah memudar dimakan usia. "Aku hanya ingin memastikannya setiap hari, Mei. Karena bagiku, mendengar pengakuanmu adalah satu-satunya hal yang membuat takhta ini tidak terasa dingin," jawab Yuan sembari mengeratkan dekapannya, seolah takut jika ia melonggarkan pelukan itu, sosok di depannya akan menghilang bak mimpi. Mei menatap langit malam yang bersih. Pikirannya melayang jauh ke belakang, menembus lorong waktu menuju masa-masa di mana ia hanyalah
閱讀更多