"Tunggu apa lagi, Mei?! Sayat saja tenggorokannya! Wanita seperti dia hanya akan menjadi benalu jika dibiarkan bernapas!" Suara Yue Er memecah keheningan yang mencekam itu. Ia berdiri dengan santai sembari menyandarkan pedang melengkungnya di bahu, matanya berkilat penuh provokasi. "Kalau kau tidak tega, biarkan aku yang melakukannya. Aku paling benci melihat drama keluarga di tengah medan perang yang kotor begini. Cepat selesaikan, atau dia akan mematukmu lagi saat kau berbalik!" Para prajurit Jin dan Shu menahan napas. Long Yuan diam terpaku, tangannya terkepal erat di hulu pedang, siap melakukan apa pun jika Shu Mei memutuskan untuk menumpahkan darah. Di bawah todongan belati, Shu Lian memejamkan mata erat-erat, tubuhnya bergetar hebat dengan sisa-sisa isak tangis yang tertahan. Ia sudah pasrah, menunggu sensasi dingin logam yang akan mengakhiri napasnya. "Kau benar, Kak Yue," bisik Mei, suaranya terdengar jernih di antara desis angin. "Dia adalah benalu. Dan benalu harus dipan
Read more