"Jangan berikan dia ruang untuk bernapas, Tian! Serang dari sisi kiri bawah, di sana pertahanan Ayahmu selalu goyah!" Teriakan itu melengking jernih di udara pagi yang sejuk, berasal dari balkon paviliun tinggi yang menghadap langsung ke lapangan latihan utama. Shu Mei berdiri di sana, mengenakan jubah permaisuri berwarna biru muda yang tenang, namun matanya berkilat penuh semangat, bukan semangat seorang tabib, melainkan semangat seorang ibu yang sedang mengompori putranya. Di tengah lapangan, debu beterbangan mengikuti setiap gerak lincah dua sosok pria yang memiliki postur tubuh yang hampir serupa. Long Yuan tampak menggeram, otot-otot lengannya menegang saat ia menahan hantaman pedang kayu yang sangat berat. Di hadapannya, Long Tian Jun yang kini telah menginjak usia tujuh belas tahun, berdiri dengan kegagahan yang sanggup mengintimidasi lawan mana pun. Wajah Tian Jun telah kehilangan kebulatan pipi masa kecilnya, berganti dengan rahang yang tegas dan tajam. Tanda hitam di dahi
Read more