"Tabib Agung, apakah kau yakin ingin melakukan ini tanpa pengawalan satu kompi prajurit? Suasana di pasar bawah masih sangat keruh," asisten tabib itu berbisik dengan nada cemas, matanya melirik waspada ke arah kerumunan warga yang mulai berkumpul di kejauhan.Shu Mei mengencangkan ikatan kotak obat di pundaknya, lalu merapikan gaun sederhananya yang kini tak lagi dihiasi permata istana. "Jika aku datang dengan pasukan lengkap, aku tidak sedang mengobati rakyat, tapi sedang mengintimidasi mereka. Biarkan saja. Aku hanya butuh kau, kotak obat ini, dan keranjang buah itu." "Tapi, Putri.." "Panggil aku Mei jika kita berada di luar gerbang istana," potong Mei dengan tegas namun lembut. Ia mengambil satu keranjang penuh apel merah dan mulai melangkah menuju pemukiman kumuh yang paling parah terkena dampak serangan api pasukan Zhang dan Shu beberapa waktu lalu. Langkah Mei terhenti di sebuah gang sempit yang dipenuhi puing-puing kayu terbakar. Di sana, sekelompok anak-anak sedang bermain
Read more