"Apa yang kau katakan?" balas Dante, balik bertanya.Samar, kening Liv bergelombang. Bibir ranumnya sedikit mengerucut—bukan merajuk, ia tengah mencari jawaban sendiri atas pertanyaannya."Bukankah aku pasanganmu?" Beberapa kali Liv mengedipkan kelopak mata—mencoba mencerna maksud ucapan Dante. Walau vokalnya terdengar jelas, tapi ia berusaha percaya di atas ragu karena percakapan pelayan."Tentu aku mengerti bagaimana kau," imbuh Dante selama istrinya terdiam. "Kau suka melamun, seperti ada banyak sekali hal di dalam kepala mungilmu.""Dante tahu?" Perempuan itu bersuara rendah, sangat rendah, persis bisikan. "Dante bisa menebak apa yang Liv pikirkan sekarang?"Dante menarik udara panjang, memerosoki rongga hidung hingga paru-paru penuh oleh oksigen. Kemudian dia lepaskan perlahan."Bukan hal penting," ucapnya, nampak tak mengindahkan pertanyaan Liv. "Kepalamu terlalu berharga.""Berhentilah memikirkan hal-hal tak penting." Punggung tangan Liv diberikan usapan, gerakannya ritmis, te
Última actualización : 2026-01-03 Leer más