Mag-log inbisa banget ye si Dante. bilang aja pengen ciuman. yuk gengs tinggalin komentar kalian💖
Peraduan keyboard dengan ujung jari menderu membelah senyap, denting jarum jam tersampaikan ke dalam rungu dalam satu ruangan dipenuhi warna abu-abu terang. Sebuah meja membentang di sudut bagian tengah, berdiri sebuah komputer yang kini membantu Liv mengerjakan anggaran mansion. Beruntungnya Allison tidak lagi meminta membuat laporan keuangan manual.Sebuah berkas bersampul hijau tua bertahun Biaya Operasional Dapur Liv mulai baca, perhatikan detail setiap angka yang tertera. Selama membaca tidak ada kesalahan, lagi-lagi semuanya sempurna.Dari laporan memang sempurna, tapi Liv belum diperbolehkan mengecek gudang oleh Allison. Entah apa alasannya, tapi Liv percaya penuh pada Allison yang memegang tugas pengecekan gudang.Tuas pintu bersuara dari titik di mana pintu menjulang. Kacamata yang Liv kenakan pun diturunkan guna melihat gerangan yang datang ke dalam ruang kerjanya tanpa ketukan pintu."Kau terlihat sangat sibuk, Lady." Dante muncul dari balik pintu, masing-masing tangan ber
Di sore hari, seperti yang Allison sampaikan, Dante pulang membayar harapan yang telah hilang saat paginya. Liv menyambut penuh riang, mendekap sang suami yang akhirnya dapat ia lihat."Merindukanku? Hmm?" Lelakinya melabuhkan kecupan di ujung hidung, begitu manis, dilakukan di ambang pintu utama mansion.Persembahan manis untuk para pelayan yang berlalu lalang. Seharusnya mereka melihat betapa pantasnya Liv menjadi Nyonya Greyson, dan tidak lagi merendahkannya."Everytime," sahut Liv, kakinya sampai menjingkat agar dapat menjangkau ketampanan suaminya.Rengkuhan mereka terurai, memulai langkah menuju ruang santai. Liv mengaitkan lengan di lekukan lengan Dante selama langkah mereka beriringan ke satu tujuan."Bagaimana pekerjaan Dante?" Kepala perempuan itu selalu harus mendongak karena tingginya Dante melebihi tinggi badannya."Sempurna," sahut Dante, tanpa harus memberitahukan Liv apa yang telah ia lakukan hari ini adalah tindakan di luar norma sebagai manusia.Membunuh manusia lain
Kecewa itu kembali menyapa, seperti sunrise di bentangkan cakrawala barat. Harapan semula tertanam dalam benak pun melayu mendapati kekosongan di sisinya.Sang pria lagi-lagi tak bertempat dalam rengkuhannya di pagi hari, walau semalam Liv telah memastikan Dante ada di dekapannya agar tidak pergi saat pagi mendatang.Sayang, Dante lagi-lagi pergi, menjejaki kecewa di hati kecil perempuan malang itu."Apa benar yang dikatakan pelayan?" Dia bergumam, kepala ditundukkan menatap ujung slippers.Lamunannya meluruh begitu suara engsel pintu dibuka kasar. Liv mendongak, mendapati pelayan berambut pirang yang berkonfrontasi kemarin datang.Perempuan itu membuang napas jengah. "Ini sarapanmu, Nyonya Greyson."Penekanan di gelar 'Nyonya Greyson' mengandung ejekan untuk Liv. Dia serahkan begitu kasar semangkuk sup tanpa air minum atau bahkan roti."Selamat menikmati." Perempuan itu berkacak pinggang. "Dan jangan lupa. Hari ini Nyonya Allison menyuruhmu untuk membersihkan taman belakang. Jika kau
Rembulan menggantung di atas kegelapan bentala, cahayanya bertabur menyebar menjadi pendaran di atas permukaan air di tengah-tengah kotak kolam renang. Kecipak air beradu dengan objek menderu di tengah senyapnya malam. Suhu dingin dari sentuhan air di kolam membelai setiap sel kulit, menyurutkan lengket berikut gerah semuka dirasakan.Dari dalam volume air setinggi dada orang dewasa, menyembul kepala seorang wanita. Rambut basahnya disapu ke belakang, menyingkirkan air yang menghalangi pandangan.Udara lega mengembus melalui mulut. Berat di pundak terasa meluruh bersama air yang menyapu tubuhnya yang hanya dilapisi bikini.Terlalu asyik menyelam menari-narikan tubuh di dalam air, rungunya tak dapat merespons kedatangan seseorang.Jauh dari tepi kolam, Dante Greyson rekam sang istri melalui matanya. Liukan tubuhnya begitu elok di pandang. Kulit tubuh halus itu mengkilapkan bayangan yang diterpa cahaya bulan dan lampu.Pundak mungil sang istri tertangkap matanya, bulatan yang ditampung
Meja persegi panjang dengan dasar hijau membentang, tumpukan chip dari berbagai warna berderak menyuarakan pertaruhan di sisi setiap pemain. Dan chip berwarna hitam paling menonjolkan kekuasaan dari pemilik kasino tersebut—Dante Greyson memberi getar ancaman sekaligus tantangan dari deretan pemain.Punggung kokoh dijatuhi setelan hitamnya berpostur tegak, duduk di atas kursi kulit mahal. Wajahnya tak mampu dibaca lawan—terlalu menyeramkan sebagai lawan yang selalu melumpuhkan musuh dengan kombinasi kartu di genggamannya.Dealer telah menghamparkan river di atas meja hijau yang dijatuhi pendaran lampu kristal di atas kepala mereka. River—momen paling mendebarkan bagi para pemain, terlebih lawan main mereka adalah Dante Greyson—penguasa meja judi dengan lima kombinasi kartu andalannya."Taruhan berakhir." Saat Dealer berbicara—menyuarakan showdown agar semua pemain menunjukkan kartu-kartunya, suasana terasa menghimpit dada.Di seberang Dante, seorang pria telah dipenuhi keringat dingin
"Nanti malam kita pergi ke party. Aku ingin sekali memamerkan dress baruku. Semua orang pasti melirikku." Alexa dengan antusiasnya mengangkat paper yang ia bawa, sementara paper bag lain Liv yang membawa. "Untuk apa kita membeli dress kalau tidak dipamerkan?" sahut Hailey, pundaknya berkedik. "Sayang sekali Emily pergi." Bibir Alexa melengkung ke bawah, tak begitu peduli pada sahabatnya itu. "Perempuan itu sulit sekali ditebak. Lagipula dia tidak menyukai pesta." Saat keduanya asyik bercengkrama, membicarakan betapa indahnya tubuh mereka dibaluti dress mahal serta pakaian mahal lainnya, Liv memperhatikan. Gurat di wajahnya sendu bercampur nelangsa melihat keadaannya. Selalu saja dipermainkan, seolah dia hidup dijadikan pion di atas bidak dengan mereka sebagai pengendali. Setelah memuaskan adrenalin mereka di pusat perbelanjaan, Liv dijadikan sebagai pengawal untuk membawakan semua barang-barang yang mereka beli. "Ey, Jalang! Cepat!" Hailey menyerukan panggilannya, alis menukik m







