Share

Bab 14. Konstalasi

Penulis: Mami
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-04 08:29:10

Udara dingin mengembus membawa surai Liv, suhunya menusuk setiap lapisan kulit. Namun, saat bersamaan, Liv merasakan adanya dekapan ternyaman dari angin malam yang berembus.

Mata bulatnya menatap takjub pada rasi bintang yang berkelap-kelip indah di atas bentala. Setiap dia menangkap bentuk indah berupa ursa mayor, senyumnya mengembang—seperti sehabis diberi hadiah.

"Malam ini sangat cerah." Suara Dante menyelinap di antara hening.

Liv membalikkan badan, dia temukan sang suami yang juga menatap keindahan bentala yang membentangkan ribuan bintang.

"Dante tidak keluar?" Liv tahu, seorang pemimpin seperti Dante selalu mewajibkan pria itu untuk keluar di malam hari untuk bekerja.

Saat orang normal akan keluar di siang hari untuk mencari punda-pundi rupiah, berbeda dengan suaminya. Dia tidak bekerja dalam lingkup bersih, dunia gelapnya selalu menuntut agar dia bergerak di tengah gelapnya malam.

"Untuk apa?" Lelaki itu dekati istrinya, tiba di jangkauan Liv, lengannya melingkar di pinggang
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dalam Rengkuhan Tuan Mafia   Bab 20. Serangan

    Meja persegi panjang dengan dasar hijau membentang, tumpukan chip dari berbagai warna berderak menyuarakan pertaruhan di sisi setiap pemain. Dan chip berwarna hitam paling menonjolkan kekuasaan dari pemilik kasino tersebut—Dante Greyson memberi getar ancaman sekaligus tantangan dari deretan pemain.Punggung kokoh dijatuhi setelan hitamnya berpostur tegak, duduk di atas kursi kulit mahal. Wajahnya tak mampu dibaca lawan—terlalu menyeramkan sebagai lawan yang selalu melumpuhkan musuh dengan kombinasi kartu di genggamannya.Dealer telah menghamparkan river di atas meja hijau yang dijatuhi pendaran lampu kristal di atas kepala mereka. River—momen paling mendebarkan bagi para pemain, terlebih lawan main mereka adalah Dante Greyson—penguasa meja judi dengan lima kombinasi kartu andalannya."Taruhan berakhir." Saat Dealer berbicara—menyuarakan showdown agar semua pemain menunjukkan kartu-kartunya, suasana terasa menghimpit dada.Di seberang Dante, seorang pria telah dipenuhi keringat dingin

  • Dalam Rengkuhan Tuan Mafia   Bab 19. Xavier

    "Nanti malam kita pergi ke party. Aku ingin sekali memamerkan dress baruku. Semua orang pasti melirikku." Alexa dengan antusiasnya mengangkat paper yang ia bawa, sementara paper bag lain Liv yang membawa. "Untuk apa kita membeli dress kalau tidak dipamerkan?" sahut Hailey, pundaknya berkedik. "Sayang sekali Emily pergi." Bibir Alexa melengkung ke bawah, tak begitu peduli pada sahabatnya itu. "Perempuan itu sulit sekali ditebak. Lagipula dia tidak menyukai pesta." Saat keduanya asyik bercengkrama, membicarakan betapa indahnya tubuh mereka dibaluti dress mahal serta pakaian mahal lainnya, Liv memperhatikan. Gurat di wajahnya sendu bercampur nelangsa melihat keadaannya. Selalu saja dipermainkan, seolah dia hidup dijadikan pion di atas bidak dengan mereka sebagai pengendali. Setelah memuaskan adrenalin mereka di pusat perbelanjaan, Liv dijadikan sebagai pengawal untuk membawakan semua barang-barang yang mereka beli. "Ey, Jalang! Cepat!" Hailey menyerukan panggilannya, alis menukik m

  • Dalam Rengkuhan Tuan Mafia   Bab 18. Aneh

    Hari ini Liv mendapatkan kelonggaran, dia dapat pergi kuliah seperti biasanya, dengan kesepakatan pulang tepat waktu. Terkadang, tanpa sadar kakinya akan melompat-lompat kecil selagi tungkai dilangkahkan. Girang dari wajahnya membuktikan kelegaan luar biasa sebab bisa menghirup udara di luar, tanpa genggaman sesak akan gosip bertajuk 'Peresmian Nyonya Greyson' di balik dinding mansion, membuat Liv merasa tercekik setiap kali mendengarnya. Persetan peresmian Nyonya Greyson, Dante sangat mencintainya tanpa celah, tanpa ujung. Lelaki itu selalu mencurahkan cintanya penuh kelembutan, tidak pernah lagi mendorongnya menjauh seperti hari pertama pertemuan. "Lihatlah Jalang ini. Sepertinya ada kabar baik." Jalannya terpaksa berhenti, seseorang berdiri angkuh selagi menyedekap dada. Matanya melihat setiap tampilan Liv yang tida biasanya. Pakaiannya bersih dan rapi, wangi—menguarkan aroma kemewahan, tidak ada lagi bau-bau kemiskinan yang selalu mereka cium dari Liv Florence. "Ha-Hailey?" B

  • Dalam Rengkuhan Tuan Mafia   Bab 17. Kecewa

    Ketika mentari menyorot, kelopak mata itu bergerak perlahan memberi tanda kehidupan akan segera bertandang. Si empu dari mata yang masih tertutup itu merentangkan tangan, menggeliatkan kaku dari ototnya. Begitu mata sepenuhnya terbuka, mulutnya membuka lebar. Dia menjulurkan tangan dari dalam selimut, mencari eksistensi seseorang yang seharusnya ada di sisinya. Namun, yang ia dapat hanyalah kasur kosong tanpa insan. Dante pergi lagi. Lelaki itu selalu menghilang saat pagi menyapa, tidak memberi Liv kesempatan untuk melihat wajah tampannya sebelum memulai hari. Labium perempuan itu membentuk lurus, menyiratkan kecewa mendalam. Tetapi, dia enggan berlarut dalam kecewa yang sering sekali terjadi—bahkan setiap hari. "C'mon, Liv. Ini bukan pertama kalinya kau kecewa." Dia mencoba tegar, menghibur hati yang telah rapuh. Tungkainya diturunkan dari atas ranjang, menjejak slippers bulu nan halus di bawah ranjang. Sejenak, dia mengambil jeda sebelum pergi membersihkan diri ke kamar mandi, m

  • Dalam Rengkuhan Tuan Mafia   Bab 16. Allison Berubah

    Nyaring terdengar dari sebuah benda pipih di atas nakas, mengusik lelap seorang wanita di balik selimut tebal. Sebuah tangan mengulur dari dalam selimut, meraba area nakas sebelum bertemu benda yang menimbulkan dering. "Ukh." Dia meringis selagi membuka mata. Menyipit begitu cahaya silau dari layar ponsel menerpa wajah, stabilkan pencahayaan dengan kornea mata setelah dibawa tidur selama satu malam. Sederet nama dia baca sebagai ID caller di layar ponsel. Ikon hijau pun diseret sebelum tersambungnya telepon. Lekas bawa benda tersebut menempel di telinganya. "Kenapa lama sekali?" Suara sang ayah terdengar, nadanya marah. Dia jengkel sebab Liv baru menjawab teleponnya—itu jelas. Liv sendiri sudah paham bagaimana ayahnya. "Maaf, Ayah. Liv baru bangun." Perempuan itu melepas selimut, membawa punggung bersandar pada headboard. Decakan jengkel menyusul dari Kane. "Transfer Ayah uang. Ayah kalah judi malam ini, dan kau harus membalas budimu." Bahkan Liv baru membuka mata, tapi sambu

  • Dalam Rengkuhan Tuan Mafia   Bab 15. Sakit

    Saat knalpot harley mendebur gagah di tengah jalanan Los Angeles, membelah udara bercampur rinai yang telah mengguyur bumi. Setiap butirannya menampar wajah Dante yang tak dihalangi kaca helm, suara dentingan di setiap permukaan yang dijamah adalah alunan dari perjalanan mereka. Meskipun hujan telah menghancurkan momen indah mereka di atas Los Angeles 6th bridge, perasaan Liv tetap konsisten—bahagia. Dan karena hujan, dia merasa tengah berperan dalam bingkai film. Nuansa menjadi romantis kala dia dengan Dante duduk satu jok di atas motor harley, menembus derasnya hujan tanpa melipir ke tempat teduh. Liv sendiri terkejut hujan tiba-tiba datang, padahal langit membentang cerah sebelum mereka tiba di Los Angeles 6th bridge, bahkan sempat melihat bintang yang bersinar terang malam ini, tak luput bulatnya bulan mereka saksikan. Gaungan knalpot harley mereda begitu Dante menghentikan putaran rodanya saat mereka akhirnya tiba di mansion. Liv turun, membuka helm bersama senyum senantiasa te

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status