LOGINada yang bisa tebak ada apa sama Allison?? yuk tinggalin komentarnya🫶🏻💅🏻 love you all💕🫶🏻
Tempat yang kata Dante rahasia tidak seperti yang Liv bayangkan. Bukan danau untuk berpiknik, taman agar Liv dapat mencumbu keindahan dari hamparan bunganya, bukan juga pusat perbelanjaan, melainkan tempat asing yang sangat aneh di mata Liv.Begitu kaki memijak area tersebut, telinganya menangkap perbincangan orang-orang tak jauh dari yang namanya senjata. Matanya memindai deretan senjata api yang menggantung di tembok."Ini tempat apa?" Liv berbisik, sengaja agar pertanyaannya tak dianggap aneh oleh orang-orang di sana."Aku ingin mengajarkanmu hal baru." Pria itu membawa Liv ke sebuah ruangan, sebuah senjata api telah ia dapatkan dari petugas."Dante ingin mengajarkan Liv menembak?" Liv ingin menyentuh benda tersebut, tapi urung karena ini pertama kalinya dia melihat benda tersebut secara kasat mata.Biasanya dia melihat dari layar kaca, atau hanya mendengar dari mulut ayahnya yang sering menggunakan tembakan untuk berburu. Sekalipun di rumahnya dulu juga memiliki pistol, dia tak pe
Peraduan keyboard dengan ujung jari menderu membelah senyap, denting jarum jam tersampaikan ke dalam rungu dalam satu ruangan dipenuhi warna abu-abu terang. Sebuah meja membentang di sudut bagian tengah, berdiri sebuah komputer yang kini membantu Liv mengerjakan anggaran mansion. Beruntungnya Allison tidak lagi meminta membuat laporan keuangan manual. Sebuah berkas bersampul hijau tua bertahun Biaya Operasional Dapur Liv mulai baca, perhatikan detail setiap angka yang tertera. Selama membaca tidak ada kesalahan, lagi-lagi semuanya sempurna. Dari laporan memang sempurna, tapi Liv belum diperbolehkan mengecek gudang oleh Allison. Entah apa alasannya, tapi Liv percaya penuh pada Allison yang memegang tugas pengecekan gudang. Tuas pintu bersuara dari titik di mana pintu menjulang. Kacamata yang Liv kenakan pun diturunkan guna melihat gerangan yang datang ke dalam ruang kerjanya tanpa ketukan pintu. "Kau terlihat sangat sibuk, Lady." Dante muncul dari balik pintu, masing-masing tangan
Di sore hari, seperti yang Allison sampaikan, Dante pulang membayar harapan yang telah hilang saat paginya. Liv menyambut penuh riang, mendekap sang suami yang akhirnya dapat ia lihat."Merindukanku? Hmm?" Lelakinya melabuhkan kecupan di ujung hidung, begitu manis, dilakukan di ambang pintu utama mansion.Persembahan manis untuk para pelayan yang berlalu lalang. Seharusnya mereka melihat betapa pantasnya Liv menjadi Nyonya Greyson, dan tidak lagi merendahkannya."Everytime," sahut Liv, kakinya sampai menjingkat agar dapat menjangkau ketampanan suaminya.Rengkuhan mereka terurai, memulai langkah menuju ruang santai. Liv mengaitkan lengan di lekukan lengan Dante selama langkah mereka beriringan ke satu tujuan."Bagaimana pekerjaan Dante?" Kepala perempuan itu selalu harus mendongak karena tingginya Dante melebihi tinggi badannya."Sempurna," sahut Dante, tanpa harus memberitahukan Liv apa yang telah ia lakukan hari ini adalah tindakan di luar norma sebagai manusia.Membunuh manusia lain
Kecewa itu kembali menyapa, seperti sunrise di bentangkan cakrawala barat. Harapan semula tertanam dalam benak pun melayu mendapati kekosongan di sisinya.Sang pria lagi-lagi tak bertempat dalam rengkuhannya di pagi hari, walau semalam Liv telah memastikan Dante ada di dekapannya agar tidak pergi saat pagi mendatang.Sayang, Dante lagi-lagi pergi, menjejaki kecewa di hati kecil perempuan malang itu."Apa benar yang dikatakan pelayan?" Dia bergumam, kepala ditundukkan menatap ujung slippers.Lamunannya meluruh begitu suara engsel pintu dibuka kasar. Liv mendongak, mendapati pelayan berambut pirang yang berkonfrontasi kemarin datang.Perempuan itu membuang napas jengah. "Ini sarapanmu, Nyonya Greyson."Penekanan di gelar 'Nyonya Greyson' mengandung ejekan untuk Liv. Dia serahkan begitu kasar semangkuk sup tanpa air minum atau bahkan roti."Selamat menikmati." Perempuan itu berkacak pinggang. "Dan jangan lupa. Hari ini Nyonya Allison menyuruhmu untuk membersihkan taman belakang. Jika kau
Rembulan menggantung di atas kegelapan bentala, cahayanya bertabur menyebar menjadi pendaran di atas permukaan air di tengah-tengah kotak kolam renang. Kecipak air beradu dengan objek menderu di tengah senyapnya malam. Suhu dingin dari sentuhan air di kolam membelai setiap sel kulit, menyurutkan lengket berikut gerah semuka dirasakan.Dari dalam volume air setinggi dada orang dewasa, menyembul kepala seorang wanita. Rambut basahnya disapu ke belakang, menyingkirkan air yang menghalangi pandangan.Udara lega mengembus melalui mulut. Berat di pundak terasa meluruh bersama air yang menyapu tubuhnya yang hanya dilapisi bikini.Terlalu asyik menyelam menari-narikan tubuh di dalam air, rungunya tak dapat merespons kedatangan seseorang.Jauh dari tepi kolam, Dante Greyson rekam sang istri melalui matanya. Liukan tubuhnya begitu elok di pandang. Kulit tubuh halus itu mengkilapkan bayangan yang diterpa cahaya bulan dan lampu.Pundak mungil sang istri tertangkap matanya, bulatan yang ditampung
Meja persegi panjang dengan dasar hijau membentang, tumpukan chip dari berbagai warna berderak menyuarakan pertaruhan di sisi setiap pemain. Dan chip berwarna hitam paling menonjolkan kekuasaan dari pemilik kasino tersebut—Dante Greyson memberi getar ancaman sekaligus tantangan dari deretan pemain.Punggung kokoh dijatuhi setelan hitamnya berpostur tegak, duduk di atas kursi kulit mahal. Wajahnya tak mampu dibaca lawan—terlalu menyeramkan sebagai lawan yang selalu melumpuhkan musuh dengan kombinasi kartu di genggamannya.Dealer telah menghamparkan river di atas meja hijau yang dijatuhi pendaran lampu kristal di atas kepala mereka. River—momen paling mendebarkan bagi para pemain, terlebih lawan main mereka adalah Dante Greyson—penguasa meja judi dengan lima kombinasi kartu andalannya."Taruhan berakhir." Saat Dealer berbicara—menyuarakan showdown agar semua pemain menunjukkan kartu-kartunya, suasana terasa menghimpit dada.Di seberang Dante, seorang pria telah dipenuhi keringat dingin







