LOGIN‘’Kenapa?’’
"Cuaca di sini buruk banget. Hujan badai, angin kencang. Semua flight ke Jakarta di cancel sampai pemberitahuan lebih lanjut." Jawab Febby sembari menunjukkan layar ponselnya yang berisi informasi pembatalan sejumlah penerbangan.Revan langsung berhenti melangkah. Ia menoleh ke arah jendela besar di lobi hotel.Di luar, memang sedang hujan deras sudah tumpah seperti air bah, menutupi jarak pandang. Suara petir menggelegar, membuat beberapa pengunjung hotel tersentakHujan di Surabaya rupanya tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Suaranya yang menghantam kaca jendela hotel terdengar seperti rentetan peluru, menciptakan suasana yang kian suram. Revandra yang merasa badannya sangat remuk setelah perjalanan udara pagi buta dan rangkaian rapat yang menguras otak, akhirnya menyerah. Ia memutuskan untuk memejamkan mata sejenak, berharap saat ia bangun nanti, langit sudah cerah dan ia bisa segera memesan taksi menuju bandara.Di atas meja nakas, ponselnya yang baru saja mendapatkan sedikit daya mulai terhubung dengan pengisi daya. Revan membiarkannya dalam kondisi mati, berpikir bahwa tidur satu jam saja akan cukup untuk memulihkan tenaganya sebelum ia benar-benar kembali ke Jakarta dan menjelaskan semuanya pada Vera.Namun, tidur yang ia bayangkan akan tenang itu justru terganggu. Tok tok tokDalam remang kamar, sebuah ketukan pintu yang sangat memburu dan keras terdengar berulang-ulang. Revan tersentak ban
Vita memegang ponselnya dengan kening berkerut. Nada sambung yang tadi terdengar monoton kini berubah menjadi suara operator yang menyatakan bahwa nomor tersebut berada di luar jangkauan. Ia menjauhkan ponsel dari telinga, menatap layarnya dengan tatapan tidak percaya sekaligus kesal. "Iish, anak ini! Di saat penting begini malah nomornya gak aktif. Benar-benar keterlaluan si Revan ini," gerutu Vita sembari mencoba menekan tombol panggil sekali lagi, namun hasilnya tetap sama. ‘’Revannnn, jangan sampai mama bikin kamu anak geprek ya!’’ umpat Vita semakin kesal. Vera yang melihat kegusaran ibu mertuanya hanya bisa tersenyum kecut. Ia tahu betul kenapa ponsel itu tidak bisa dihubungi, atau setidaknya, imajinasinya sudah membangun skenario pahit tentang apa yang sedang dilakukan suaminya di sana. Mungkin Revan sengaja mematikan ponsel agar tidak terganggu saat sedang bernostalgia dengan Febby. "Ma, u
‘’Kenapa?’’"Cuaca di sini buruk banget. Hujan badai, angin kencang. Semua flight ke Jakarta di cancel sampai pemberitahuan lebih lanjut." Jawab Febby sembari menunjukkan layar ponselnya yang berisi informasi pembatalan sejumlah penerbangan. Revan langsung berhenti melangkah. Ia menoleh ke arah jendela besar di lobi hotel. Di luar, memang sedang hujan deras sudah tumpah seperti air bah, menutupi jarak pandang. Suara petir menggelegar, membuat beberapa pengunjung hotel tersentak kaget."Cek maskapai lain, Feb. Apa aja deh, yang penting aku sampai di Jakarta hari ini," perintah Revan dengan nada bicara yang mulai meninggi. Ia merasa tidak tenang. Sejak tadi siang, perasaannya terus menerus tertuju pada Vera."Sudah aku cek semua, Van. Semuanya merah. Bahkan kereta api pun kabarnya ada gangguan karena jalur yang terendam air," sahut Febby sembari menghela napas panjang. Ia menatap Revan dengan tatapan yang sulit diartikan, antara simpati dan sesuatu y
"Enggak kok," jawab Vera singkat, sebuah kebohongan yang ia ucapkan dengan nada setenang mungkin. Ia menarik sudut bibirnya, berusaha menciptakan senyum yang tampak senatural mungkin meskipun matanya tak mampu berbohong.Wilona tidak lantas percaya. Ia justru memajukan duduknya, meraih jemari Vera yang terasa dingin. "Ver, kita sahabatan sudah lamaaaa banget loh. Dari SMA, kuliah, sampai sekarang. Sudah belasan tahun, Ver. Aku tahu kapan kamu senyum beneran dan kapan kamu senyum cuma buat nutupi sesuatu."Vera menunduk, menatap selimut rumah sakit yang menutupi kakinya. "Wil, aku—""Ver, kita sahabat. Ingat, kamu gak sendiri. Jangan dipendam," potong Wilona dengan nada yang lebih lembut namun penuh penekanan. "Kalau Revan berani nyakitin kamu, aku akan maju buat ngehajar dia. Aku gak peduli dia suami kamu atau siapa pun, kalau dia bikin kamu nangis, dia urusanku."Kehangatan dari genggaman tangan Wilona sempat membuat pertahanan Vera goyah.
Di layar itu, terpampang sebuah foto yang diambil dari jarak yang cukup dekat di area bandara. Di sana, Revandra Saputra, suaminya yang tadi pagi mencium keningnya dengan terburu-buru, tengah memeluk seorang wanita dengan sangat erat. Wanita itu adalah Febby.Dunia Vera seolah runtuh seketika. Suasana mal yang ramai dengan musik latar yang ceria kini terasa seperti ejekan yang memekakkan telinga. ‘’Sumpah, kamu jahat banget sih Van?’’ Air mata yang sejak tadi ia tahan kini mengalir deras tanpa bisa dibendung. Ternyata, perjalanan ke Surabaya itu bukan hanya soal bisnis. Ternyata, pesan jam enam pagi itu adalah awal dari pengkhianatan yang paling nyata. Dan yang paling menyakitkan, justru orang yang paling ia benci, Jenny lah yang memberikan bukti itu tepat di hadapannya, menghancurkan sisa-sisa harga diri yang masih Vera miliki. Di tangannya, ponsel itu masih menyala, menampilkan bayangan suaminya yang sedang memeluk masa lalunya di bawah cahaya
‘’Enggak! Aku gak boleh egois!’’‘’Lagian, hubungan ku dan Revan tidak seharmonis itu, ngapain aku terlalu ikut campur!’’‘’Tapi—” Vera memegang dadanya, rasanya cukup sesak.‘’Kenapa rasanya sakit, mengingat dia Bersama Wanita lain?’’Vera mengembuskan napas panjang, mencoba meredakan detak jantungnya yang masih tidak keruan. Ia sempat memegang kunci mobil dengan erat, berniat menyusul ke bandara atau bahkan menyusul ke Surabaya. Namun, akal sehatnya kembali mengetuk. Untuk apa? Jika ia datang ke sana dan benar-benar melihat Revan bersama Febby, apakah ia sudah siap dengan kehancuran yang akan menyusul?Akhirnya, Vera memutuskan untuk memutar arah. Ia butuh pengalihan. Ia butuh keramaian agar suaranya sendiri tidak terus-menerus meneriakkan nama Febby di dalam kepalanya. Pilihan pun jatuh pada sebuah pusat perbelanjaan mewah di Jakarta Selatan. Ia berniat mencari kado pernikahan untuk Tika, sesuatu yang sangat istimewa, sebanding dengan drama yang sahabatnya itu buat kemarin.
Yudha mengusap tengkuknya sendiri. Ia memang tak berpikir sejauh itu. Tadi kepalanya hanya fokus pada satu hal Wilona harus makan, harus tenang, harus aman.“Ommm…” Wilona merengek lagi, nadanya seperti anak kecil yang kehabisan permen. “Jangan diem aja, ini gimana?”Yudha menghela napas
“Bisa gak, gak usah bahas om-om?” kata Wilona sambil memanyunkan bibir. Nada suaranya terdengar kesal, tapi pipinya justru terasa hangat. Ia memalingkan wajah, berusaha menutup reaksi yang tak sepenuhnya bisa ia kendalikan.Vera menyeringai usil. “Tapi dia ganteng loh, Wil.”“Ganteng?” Wilona memb
Drrtt… Drrtt… Drrtt…Ponsel di atas meja kerja itu kembali bergetar tanpa henti. Getaran kecil itu terasa seperti mengetuk kesabaran Revan yang sejak pagi sudah terkuras oleh pekerjaan. Tumpukan berkas masih menggunung di depannya, proposal yang harus ia pelajari belum juga selesai, sementara emai
Seperginya Evelyn, pintu ruang perawatan itu tertutup pelan. Suara kecil itu terasa seperti garis batas memisahkan masa lalu dan masa kini.Ruangan mendadak sangat hening. Cahaya lampu putih menerangi wajah pucat anak itu, sementara di sudut ruangan, dua orang dewasa berdiri saling berhadapan denga







