LOGINJarum jam dinding di ruang tengah sudah menunjukkan pukul sebelas malam lewat lima belas menit ketika suara deru mobil terdengar memasuki pelataran rumah.
Vera, yang sejak tadi hanya membolak-balik halaman majalah tanpa benar-benar membacanya, segera bangkit. Ia merapikan piyamanya sejenak, mencoba menghilangkan kesan bahwa ia telah menunggu di sofa selama berjam-jam dengan hati yang gelisah. Pintu depan terbuka, menampakkan sosok Revandra Sa‘’Enggak! Aku gak boleh egois!’’‘’Lagian, hubungan ku dan Revan tidak seharmonis itu, ngapain aku terlalu ikut campur!’’‘’Tapi—” Vera memegang dadanya, rasanya cukup sesak.‘’Kenapa rasanya sakit, mengingat dia Bersama Wanita lain?’’Vera mengembuskan napas panjang, mencoba meredakan detak jantungnya yang masih tidak keruan. Ia sempat memegang kunci mobil dengan erat, berniat menyusul ke bandara atau bahkan menyusul ke Surabaya. Namun, akal sehatnya kembali mengetuk. Untuk apa? Jika ia datang ke sana dan benar-benar melihat Revan bersama Febby, apakah ia sudah siap dengan kehancuran yang akan menyusul?Akhirnya, Vera memutuskan untuk memutar arah. Ia butuh pengalihan. Ia butuh keramaian agar suaranya sendiri tidak terus-menerus meneriakkan nama Febby di dalam kepalanya. Pilihan pun jatuh pada sebuah pusat perbelanjaan mewah di Jakarta Selatan. Ia berniat mencari kado pernikahan untuk Tika, sesuatu yang sangat istimewa, sebanding dengan drama yang sahabatnya itu buat kemarin.
Vera membalikkan tubuhnya, membelakangi Revan agar pria itu tidak bisa melihat matanya yang mulai berkaca-kaca. Ruangan kamar yang luas itu mendadak terasa begitu sempit dan menyesakkan, seolah oksigen di dalamnya telah habis tersedot oleh kecurigaan yang membara."Gapapa," jawab Vera singkat, berusaha keras menjaga suaranya agar tidak bergetar. Ia menggigit bibir dalamnya, menahan sesak yang merayap di dada.Revan, yang masih sibuk mengeringkan rambutnya, menoleh sekilas."Kamu sudah makan?" tanya Revan lagi, suaranya tetap lembut, yang justru membuat hati Vera semakin sakit. Kelembutan itu kini terasa seperti sebuah sandiwara yang dipentaskan dengan sangat rapi."Sudah kok. Kamu pasti capek. Langsung istirahat saja ya," kata Vera dengan nada yang sengaja dibuat dingin. Ia tidak ingin bicara lebih banyak. Ia takut jika ia membuka mulut, segala tuduhan dan amarah yang ia pendam akan meledak saat itu juga.Vera segera naik ke tempat tidur, menarik selimut hingga menutupi bahun
Jarum jam dinding di ruang tengah sudah menunjukkan pukul sebelas malam lewat lima belas menit ketika suara deru mobil terdengar memasuki pelataran rumah. Vera, yang sejak tadi hanya membolak-balik halaman majalah tanpa benar-benar membacanya, segera bangkit. Ia merapikan piyamanya sejenak, mencoba menghilangkan kesan bahwa ia telah menunggu di sofa selama berjam-jam dengan hati yang gelisah. Pintu depan terbuka, menampakkan sosok Revandra Saputra dengan kemeja yang sudah sedikit kusut dan dasi yang telah dilonggarkan. Wajahnya tampak lelah, namun karismanya sebagai seorang CEO tetap terpancar meski dalam kondisi paling payah sekalipun. "Kok belum tidur?" tanya Revan lembut. Ia melepaskan jasnya dan menyampirkannya di lengan, matanya menatap Vera yang berdiri tak jauh dari meja makan. "Belum ngantuk," jawab Vera bohong. Padahal, matanya sudah terasa
Tika terkekeh, sama sekali tidak merasa terintimidasi. Ia justru merapikan rambutnya yang sengaja ia acak-acak sendiri tadi agar terlihat dramatis. "Hehehe, sorry Wil, aku cuma bercanda! Habisnya muka kalian berdua itu tegang banget, seperti lagi menunggu pengumuman hasil ujian nasional tahu gak! Aku kan niatnya baik, mau mencairkan suasana biar gak pada jantungan.""Ckckck, nyebelin tahu gak! Kita lagi bahas hal yang sangat serius tadi, Tik!" Wilona mendengus, kembali menyandarkan punggungnya ke sofa sembari memijat pelipisnya perlahan. "Lagi pula, sejak kapan kamu belajar akting menangis tanpa air mata begitu? Gagal total, tahu!""Iya iya, sorry! Namanya juga usaha biar ada efek dramatisnya sedikit," sahut Tika santai, lalu menyambar gelas jus milik Vera yang hampir terlupakan dan meneguknya tanpa izin. Setelah tenggorokannya terasa segar, ia menatap kedua sahabatnya bergantian dengan mata berbinar. "Jadi, tadi kalian bahas apaan emang? Serius banget
"Revan maksudku! Ah elah, Wil! Serius dikit kenapa sih!" Vera menutup wajahnya dengan bantal sofa karena malu telah keceplosan menggunakan panggilan yang terlalu intim dalam situasi yang menurutnya sedang tegang. Tapi Wilona justru semakin terbahak-bahak, melihat sisi posesif Vera yang jarang sekali muncul ke permukaan. "Oke, oke, maaf. Tapi Ver, soal Febby... dia itu memang sempat dekat sama Revan. Tapi bukan dekat yang 'gitu'. Mereka itu rival sekaligus rekan setim yang solid banget pas SMP. Kalau kamu nanya dia orangnya gimana, dia itu... berisik, berani, dan tipikal cewek yang nggak punya batasan kalau sudah merasa nyaman sama orang."Vera terdiam. Jawaban Wilona bukannya menenangkan, malah menambah beban baru. Tidak punya batasan. Itu adalah kata kunci yang paling ia takuti. Ia kembali membayangkan bagaimana Febby memanggil suaminya dengan nama saja, seolah bertahun-tahun pernikahan yang dijalani Vera dengan Revan bisa kalah hanya oleh sebuah keakraban masa remaja."Kenapa
Udara pagi itu terasa sedikit lebih berat dari biasanya bagi Vera. Di balik kemudi mobilnya, ia tidak benar benar fokus pada jalanan aspal yang ia lalui, melainkan pada gema suara Revan yang terus berulang di kepalanya seperti kaset rusak. “Dia temen SMP ku dulu.” Kalimat itu terdengar begitu enteng, terlalu ringan untuk di telinga Vera.Vera memacu mobilnya sedikit lebih kencang, membelah kemacetan kota menuju kediaman Wilona. Ia sudah menghubungi Tika di perjalanan tadi, memastikan bahwa sahabatnya yang satu itu juga hadir. Baginya, menghadapi kegelisahan ini sendirian hanya akan membuatnya gila, dan rumah Wilona selalu menjadi benteng pertahanan terbaik untuk menumpahkan segala gundah.Sesampainya di sana, Vera tidak menunggu lama untuk turun. Ia melangkah dengan terburu buru, membawa beban pikiran yang tidak kasat mata. Begitu pintu depan terbuka dan menampakkan wajah ceria Wilona, Vera bahkan tidak sempat memberikan sapaan basa basi yang manis. Ia langsung masuk, meletakka
Drrtt… Drrtt… Drrtt…Ponsel di atas meja kerja itu kembali bergetar tanpa henti. Getaran kecil itu terasa seperti mengetuk kesabaran Revan yang sejak pagi sudah terkuras oleh pekerjaan. Tumpukan berkas masih menggunung di depannya, proposal yang harus ia pelajari belum juga selesai, sementara emai
Seperginya Evelyn, pintu ruang perawatan itu tertutup pelan. Suara kecil itu terasa seperti garis batas memisahkan masa lalu dan masa kini.Ruangan mendadak sangat hening. Cahaya lampu putih menerangi wajah pucat anak itu, sementara di sudut ruangan, dua orang dewasa berdiri saling berhadapan denga
Di depan ruang perawatan Rena, suasana terasa begitu berat. Lampu lorong rumah sakit menyala terang, tapi tak mampu mengusir dingin yang menjalar di dada masing-masing orang yang berdiri di sana. Melalui kaca transparan, terlihat seorang gadis kecil terbaring lemah di atas ranjang pasien. Wajahnya
‘’Mama kamu!’’ ucap Evelyn bergetar.Brakkk!Seketika itu Yudah menggebrak meja di depannya. Dia menatap Evelyn dengan sangat tajam.‘’Jangan membawa nama ibuku dimasalah kita!’’ Yudah seolah tidak terima.‘’Aku—“‘’Sorry Evelyn, sepertinya sekarang aku tahu, kenapa aku bisa b







