Home / Romansa / Mendadak Jadi Sugar Baby / J&F Caffe end Resto

Share

J&F Caffe end Resto

Author: Mommy_Ar
last update Last Updated: 2026-02-05 07:29:16

Wilona terkekeh kecil. Tawa tipis yang akhirnya lolos dari bibirnya setelah sekian lama.

“Apaan sih kalian berdua,” katanya pelan. “Bilang aja kangen, ya kan?”

“Udah tahu masih pakai nanya,” cetus Vera cepat. “Kamu ke mana sih, Wil? Are you okay?”

Pertanyaan itu membuat Wilona terdiam sejenak.

Sejak kepergian orang tuanya, hidupnya memang berubah drastis. Ia seperti menghilang dari dunia yang dulu ia kenal.

Tidak ada lagi Wilona yang ceria, yang sibuk kuliah, yang sering
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
kin
duh udah kebayang bgt. mama yudha menolak keras wilo. duh kasian nya wilo. lama2 kena tinggal sama yudha
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Alamat siapa itu?

    “Hah?!” Dirga benar-benar tersentak. Matanya membesar. “Maksud Pak Yudha apa?” Jantung Dirga langsung berdegup sangat kencang, menghantam dadanya seperti ingin keluar. Dalam sekejap pikirannya berputar liar. Apa mungkin… Pak Yudha sudah ingat? Atau… jangan-jangan beliau punya firasat tentang bayi yang dulu dikandung Nona Wilona? Namun sebelum Dirga sempat menata jawaban, Yudha kembali bicara, suaranya terdengar berat, penuh kebingungan. “Wilona… gadis sepuluh tahun. Nama itu terus muncul di kepalaku. Rasanya gak mungkin kalau aku gak ada hubungan apa-apa dengan dia.” Yudha bangkit dari sofa, lalu berjalan mondar-mandir di depan Dirga. Langkahnya cepat, gelisah. Tangannya sesekali mencengkeram rambutnya sendiri. “Aku merasa sangat mengenal nama itu… hatiku sakit setiap mengingatnya. Aku merindukannya. Tapi aku gak bisa inget wajahnya…” "Jadi, mungkinkah dia

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Apa dia anakku?

    Sejak kepulangannya dari rumah sakit, suasana memang selalu dipenuhi kewaspadaan semua orang berjalan pelan, bicara lirih, seolah takut mengusik ingatan yang belum kembali.Bel berbunyi.Pelayan membuka pintu, dan seorang pria berdiri rapi di sana.“Selamat malam, Pak,” sapa Dirga sopan ketika akhirnya ia berhadapan langsung dengan Yudha di ruang tamu.Sudah lama ia ingin datang. Tapi baru sekarang, ia bisa menjenguk langsung.Yudha menatapnya beberapa detik. Tatapannya kosong, menilai, seperti mencoba mencari sesuatu di wajah pria itu.“Kamu siapa?” tanya Yudha datar.Dirga menelan ludah pelan, tapi tetap menjaga sikap profesional.“Saya Dirga, Pak. Asisten pribadi Pak Yudha di kantor.”Beberapa detik hening.Yudha mengangguk kecil, seolah mencatat informasi itu dalam kepalanya yang kini seperti buku kosong.“Apa kamu bisa kupercaya?”Pertanyaan itu membuat Dirga sedikit terkejut. Namun ia langsung menunduk hormat.“InsyaAllah bisa, Pak.”Yudha menatapnya sekali lagi, lalu tanpa berk

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Sulit mengingat

    Beberapa hari kemudian, dokter akhirnya memperbolehkan Yudha pulang.Kondisinya memang belum sepenuhnya pulih, tetapi secara fisik ia sudah cukup stabil untuk menjalani rawat jalan. Hanya saja, satu hal yang belum kembali ingatannya.Ola dan Andika datang lebih dulu ke rumah sakit pagi itu. Evelyn menyusul tak lama kemudian. Ia mengenakan blouse putih sederhana dan celana panjang hitam. Tidak seperti biasanya yang glamor dan penuh sorotan kamera, hari itu ia tampil sederhana. Matanya pun masih sembab entah karena kurang tidur atau terlalu sering menangis.Perawat membantu Yudha duduk di kursi roda. Tatapannya tenang, tapi kosong. Ia melihat ketiganya bergantian, seolah sedang berusaha mengenali siapa yang berdiri di hadapannya.“Kita pulang ya, Nak,” ucap Ola lembut, berusaha terdengar ceria.Yudha hanya mengangguk pelan.Sepanjang perjalanan menuju rumah, suasana di dalam mobil terasa canggung. Andika menyetir. Ola di kursi depan. Sementara Yudha d

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Aku pacar kamu!

    Ada jeda sepersekian detik. Sangat singkat. Tapi cukup untuk membuat Evelyn menyadarinya.“Kenapa kamu tanya begitu?” balas Ola.“Apa yang sebenarnya terjadi, Tante?” Evelyn menelan ludah. “Kenapa Yudha hanya mengingat nama Wilo? Kenapa bukan aku? Kenapa bukan Tante? Pasti ada sesuatu yang Eve gak tahu…”Kalimat itu menggantung di udara. Ola menggenggam tangan Evelyn. Genggamannya erat, hampir terlalu erat.“Kamu percaya sama Tante?” Evelyn terdiam. “Kamu tahu kan Tante sayang sama kamu, Eve? Tante cuma mau yang terbaik buat kamu dan Yudha.”“Maksud Tante?” tanya Evelyn pelan.Ola menatapnya dengan sorot mata yang sulit ditebak. “Sudahlah. Kamu tidak perlu lagi memikirkan adik kamu itu.”Kalimat itu membuat jantung Evelyn berdegup lebih kencang.Bukan “kita cari bersama.”Bukan “kita lapor polisi lagi.”Tapi, Tidak perlu memikirkan.“Tolong fokuslah pada Yudha,” lanjut Ola dengan suara lembut namun mengandung tekanan yang kuat. “Dan segera

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Kebohongan Olla

    Olla dan Evelyn saling menatap satu sama lain. Beberapa detik, Yudha menunggu jawaban., sampai akhirnya Olla membuka suara“Wilona? Dia—”“Dia adikku!” Suara Evelyn memotong cepat sebelum Ola sempat menyusun kebohongan lain.Ruangan yang sejak tadi tegang mendadak membeku. Yudha menoleh ke arah Evelyn.Ola juga.Tatapan mereka sama-sama terkejut. Evelyn berdiri tegak, meski jantungnya seperti diremas. Tangannya dingin. Tapi ia tidak ingin bersembunyi lagi di balik diam.“Wilona adalah adikku,” ulangnya lebih pelan, menatap langsung ke mata Yudha. “Kenapa kamu mencarinya?”Ada getar halus di suaranya.Bagaimana mungkin…?Pria yang ia tunggu sebulan penuh untuk sadar, pria yang hampir ia nikahi, justru membuka mata dan menyebut nama perempuan lain.Nama adiknya sendiri. Yudha memandang Evelyn lama. Wajah itu cantik. Lembut. Penuh kesedihan.Tapi tetap saja, Tidak ada kenangan.“Adik kamu?” ulang Yudha pelan. “Di mana dia sekarang?”S

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Kenapa Wilona?

    Bunyi mesin monitor berdetak pelan memenuhi ruang ICU yang kini terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Sudah hampir satu bulan Yudha terbaring tanpa kesadaran. Tubuhnya terpasang berbagai selang dan alat bantu. Wajahnya pucat, namun tetap menyimpan garis tegas yang dulu begitu hidup. Dan pagi itu… jari-jarinya bergerak. Pelan. Sangat pelan. Alisnya berkerut. Napasnya berubah lebih berat. Lalu perlahan… matanya terbuka. Pandangan Yudha masih kabur. Lampu putih di langit-langit terasa menyilaukan. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba fokus. Ruangan itu kosong. Tidak ada siapa pun di sana. Hanya suara mesin dan detak jantungnya sendiri yang terdengar. Bibirnya yang kering bergerak pelan. “W–Wilona…” Nama itu keluar begitu saja. Refleks. Seolah tertanam dalam kesadarannya yang paling dalam. Tepat saat itu, pintu ruangan terbuka pelan. Evelyn masuk membawa tas kecil di tangannya. Ia datang seperti hari-hari sebelumnya menemani, berbicara pada tubuh yang tak pernah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status