LOGINKetiganya terdiam. Bahkan Shen Lihua sendiri terkejut oleh ucapan gurunya. "Janin?" ulangnya lirih. Suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. Apakah ia sedang bermimpi? Selama tiga tahun menjadi istri Jenderal Qu, ia dicap mandul—wanita tak berguna yang tak mampu melahirkan darah keturunan keluarga Qu. Cemoohan itu menempel padanya seperti bayangan yang tak pernah pergi. Meski ia sendiri paham, jika dirinya tak mampu hamil karena ulah Su Minshan. "Nona… selamat." Mata Luo Qingyu memerah. Hampir saja air matanya jatuh. Akhirnya, penantian panjang Shen Lihua terbayar juga. Ini membuktikan bahwa hinaan keluarga Qu dan keluarga Shen selama ini hanyalah omong kosong belaka. "Nona, akhirnya Anda bisa pamer pada Jenderal Qu bahwa Anda mampu mengandung. Apakah ini… anak dari Putra Mahkota?" bisik Luo Qingyu pelan di dekat telinganya. Matanya mengedip penuh godaan. Wajah Shen Lihua seketika memerah padam. " Kau ini bicara apa? Jangan bicara sembarangan." "Hamba tidak berbicara sembaran
Jauh di dalam hutan lebat, ribuan li dari Pegunungan Qishan, tiga sosok bersembunyi di balik rimbunnya pepohonan. Shen Lihua bersandar pada batang pohon tua yang menjulang tinggi. Napasnya tersengal, dadanya naik turun tak teratur. Energi spiritualnya terkuras hampir habis, meninggalkan rasa hampa yang dingin di dalam meridiannya. Di sampingnya, Luo Qingyu berlutut dengan wajah cemas. Ia menyeka keringat dingin di dahi sang nona dengan ujung lengan bajunya. "Nona Shen… apakah Anda baik-baik saja?" Bibir Shen Lihua pucat seperti salju musim dingin. Namun ia tetap memaksakan senyum tipis. "Aku baik-baik saja, Qingyu. Tidak perlu khawatir." Lan Rui Hong berdiri tak jauh dari mereka. Tatapan tuanya tajam, namun penuh kekhawatiran. "Shen Lan, jangan memaksakan diri. Lihatlah wajahmu. Energi spiritualmu pasti terkuras habis oleh kekuatan besar Guqin Ruangsang." Shen Lihua tidak menjawab. Napasnya masih memburu. Tubuhnya terasa begitu ringan, seolah tidak lagi berpijak pada t
Kabut Gunung Qishan bergerak pelan, menelan sosok tinggi yang berdiri di antara abu dan arang. Angin berembus dari utara, membawa sisa panas kebakaran yang belum sepenuhnya padam. Bau kayu terbakar dan tanah gosong menusuk hidung, bercampur samar dengan aroma obat-obatan yang dulu sering tercium dari pondok sederhana itu. Lin Ye Su berdiri tegak, namun dadanya terasa terbakar emosi. Tangannya masih menggenggam potongan kain sutra yang menghitam. Ujung jarinya bergetar nyaris tak terlihat. Wen Xing yang mengikuti dari belakang berlutut dengan satu kaki, kepalanya tertunduk dalam-dalam. "Yang Mulia… kami menemukan tiga jasad di sisi timur lereng. Namun semuanya telah terbakar parah. Wajah mereka tidak lagi dapat dikenali. Mungkinkah—""Shen Lan pasti masih hidup, kau jangan berbicara sembarangan!""Maafkan hamba Yang Mulia. Hamba tidak bermaksud, hamba hanya—""Aku tahu, aku masih yakin mereka masih hidup. Tidak mungkin jasad itu adalah Shen Lan, kakak Luo, dan juga Guru Lan."Lin
Aula utama Kediaman Qu malam itu terang benderang oleh lentera minyak yang bergoyang tertiup angin musim dingin. Bayangan pilar-pilar kayu hitam memanjang di lantai batu, menciptakan kesan suram dan menekan.Di tengah aula, Nyonya Tua Qu berdiri tegak dengan tongkat kayu cendana di tangannya. Ia belum tidur. Sejak senja, hatinya gelisah tanpa sebab. Ketika pintu gerbang dalam berderit pelan dan sosok Su Minshan melangkah masuk dengan jubah masih berdebu, amarah yang ia tahan sejak tadi akhirnya meledak.Wajahnya memerah seperti bara."Kau dari mana saja, Minshan?" Suaranya menggema keras di tengah aula. "Seorang perempuan yang mengandung darah keluarga Qu berani pulang lewat tengah malam tanpa izin?"Su Minshan berhenti beberapa langkah dari ambang aula. Ia tidak lagi menunduk seperti biasanya. Tidak ada lagi sikap patuh dan takut di matanya. Tatapannya justru tenang—bahkan nyaris meremehkan.Untuk pertama kalinya sejak menginjakkan kaki di Kediaman Qu, ia tidak membungkuk memberi hor
Langit di atas ibu kota Kekaisaran Yanqing seolah runtuh pada detik itu juga. Angin malam yang semula hanya berdesir lembut kini terasa seperti bilah-bilah tipis yang mengiris kulit. Jubah sederhana Lin Ye Su berkibar tertiup hembusan angin, namun tubuhnya tetap tegak. Hanya kedua matanya yang berubah—gelap, seperti jurang tanpa dasar. "Abu?" ulangnya pelan. Suara itu rendah, tetapi mengandung tekanan yang membuat Wen Xing tak berani mengangkat kepala. "Ya, Yang Mulia… pondok di kaki Gunung Qishan terbakar habis. Api menyebar begitu cepat. membuat semua yang ada di sana melebur menjadi arang dan abu." Tangan Lin Ye Su mengepal perlahan. Liebing di punggungnya bergetar halus, seakan merasakan gejolak batin tuannya. "Paviliun Gelap," gumamnya lirih. Nama itu bukan sekadar organisasi pembunuh bayaran. Di balik bayang-bayangnya, tersembunyi jaringan politik, pengkhianatan, dan tangan-tangan yang menjulur hingga ke istana. Tatapan Lin Ye Su menajam. Dia sudah tahu siapa
Di Kediaman Qu, malam turun perlahan seperti tirai gelap yang ditarik dari langit musim gugur. Lentera-lentera merah yang tergantung di serambi berayun pelan diterpa angin, bayangannya memanjang di lantai batu hijau. Nyonya Tua Qu berdiri di aula utama. Tongkat kayu hitam berukir kepala bangau di tangannya diketukkan ke lantai—sekali, dua kali, tiga kali—suara kerasnya memecah keheningan. Wajah tuanya yang dirias tipis tampak kaku oleh amarah. "Malam ini seharusnya diadakan ritual penangkal roh jahat untuk janin Su Minshan," ucapnya dingin. "Namun orangnya justru menghilang tanpa jejak." Di hadapannya, duduk seorang pria mengenakan jubah biru tua dengan sabuk giok sederhana—Jenderal Qu Liang. Di atas meja rendah di depannya, gulungan laporan dari istana masih terbuka, tinta di kuasnya bahkan belum sepenuhnya kering. Mendengar suara tongkat ibunya, ia segera mengangkat kepala. "Bukankah dia berada di Paviliun Teratai?" tanyanya, nada suaranya masih tenang, meski alisnya mulai b







