## Bab 89: Mimpi Buruk Sang CEOKesadaran Hiroshi seperti selembar daun yang hanyut di sungai hitam yang pekat. Dingin, sunyi, dan tanpa dasar. Di dunia nyata, tubuhnya mungkin sedang terbaring kaku di bawah lampu fluoresens ruang ICU, namun di dalam kepalanya, ia sedang berdiri di tengah-tengah reruntuhan masa lalunya.Langit di dalam mimpinya berwarna merah tembaga, seperti warna darah yang mengering. Hiroshi melangkah maju, namun setiap kali kakinya menyentuh tanah, pemandangan di sekitarnya berubah. Tiba-tiba, ia tidak lagi berada di kehampaan. Ia berada di kamar utama kediaman Tanaka—kamar yang selama setahun terakhir menjadi penjaranya, sekaligus tempat sucinya.Namun, ini bukan kamar yang dingin dan penuh kebencian seperti sekarang. Ini adalah masa lalu.---Hiroshi melihat dirinya sendiri. Sosok "Hiroshi" yang dulu—pria dengan jas pesanan Italia yang sempurna, dengan tatapan mata yang tidak memiliki empati. Pria itu sedang berdiri di ambang pintu, menatap jam tangan Rolex-nya
Read more