Pagi kedua di hotel suite terasa lebih berat bagi Dava. Cahaya matahari sudah tinggi, menyelinap lewat celah tirai tebal dan membentuk garis-garis emas di lantai kayu. Dava terbangun dengan tubuh yang terasa seperti terbuat dari timah—berat, lelah, dan penuh penyesalan yang mulai merayap dari sudut pikiran. Kepalanya masih berdenyut samar, tapi alkohol sudah benar-benar hilang dari darahnya. Ia sadar sepenuhnya sekarang. Nadia masih di sampingnya, telanjang, rambut cokelat keemasan tergerai di bantal, kulitnya yang mulus berkilau lembut di bawah sinar pagi. Ia tidur miring menghadap Dava, satu lengan melingkar di pinggang Dava seperti tidak ingin melepaskan. Dava menatap wajahnya—cantik, hampir sempurna, mata hijau yang tertutup rapat, bibir penuh yang sedikit terbuka. Tubuhnya adalah godaan hidup: payudara penuh, pinggang ramping, pinggul melengkung, kulit tanpa cela. Dava menutup mata sejenak, mencoba mengusir gambar-gambar malam tadi—dan malam sebelumnya. Nadia tidak hanya menema
Last Updated : 2026-02-22 Read more