Lucian membuang pandangannya ke arah perapian yang menyala terang, menghindari tatapan menusuk istrinya."Ini bukan hal yang perlu kau pikirkan sekarang, Sienna." ucap Lucian dengan nada final. Ia kembali menatap Sienna, suaranya sedikit melunak. "Fokuslah pada pemulihanmu. Biarkan aku yang mengurusnya."Namun, alih-alih menurut, rahang Sienna justru mengeras. Ia menolak mundur."Aku tidak akan bisa beristirahat jika aku tahu ada bahaya yang mengintai di sekitarku dan aku hanya dibiarkan buta." balas Sienna tegas. Tangannya mencengkeram selimutnya. "Demamku semalam bukan penyakit biasa, kan? Itu sudah direncanakan oleh seseorang. Beritahu aku, apa yang sebenarnya terjadi padamu semalam?"Lucian memejamkan mata sejenak, mengutuk kecerdasan istrinya yang tak pernah bisa ia bodohi. Ia tahu ia telah kalah. Lucia menghela napas kasar yang sarat akan rasa frustasi, pria itu akhirnya menyerah dan duduk di tepi ranjang, bahunya sedikit merosot."Seseorang mencoba menjebakku." Lucian memula
Read more