LOGINJeritan histeris Lady Alice yang menggema di sepanjang lorong perlahan-lahan memudar, ditelan oleh jarak dan tebalnya dinding istana. Di dalam ruang minum teh yang kini berantakan, sisa-sisa kepanikan masih menggantung pekat di udara.Lady Lesley segera menundukkan wajahnya ke kedua telapak tangannya. Bahunya bergetar hebat, dan isak tangis yang terdengar begitu memilukan meluncur dari bibirnya, memerankan sosok gadis lugu yang syok melihat temannya diseret layaknya penyakit.Namun, Lesley melakukan satu kesalahan kecil. Ia tidak sadar bahwa di detik pertama saat para ksatria itu berbalik membawa Alice pergi, Lady Elizabeth tidak mengalihkan pandangannya sama sekali.Sebelum jemari Lesley yang menutupi wajahnya, Elizabeth menangkap pemandangan yang membuat darah di nadinya seketika membeku. Ujung bibir Lesley berkedut naik. Sebuah senyuman lega, senyuman penuh kemenangan yang sangat dingin dan licik terukir di sana, walau hanya sekilas.Mata biru Elizabeth membulat sempurna. Napasny
Di ruang minum teh yang berhiaskan bunga-bunga dari taman istana dan emas di sayap khusus dayang, udara terasa luar biasa canggung. Ketiga gadis bangsawan itu duduk mengelilingi meja bundar, namun tak satupun dari mereka yang benar-benar menikmati teh chamomile yang telah mendingin di dalam cangkir porselen di hadapan mereka.Sejak pagi, sebuah perintah yang tak terbantahkan telah diturunkan dari sang penguasa utama kekaisaran, ketiga dayang dilarang keras melangkah mendekati Permaisuri. Mereka diisolasi di sayap ini di bawah pengawasan ketat, tanpa penjelasan apa pun.Lady Alice meletakkan cangkirnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Wajah cantiknya memancarkan raut kebingungan dan kecemasan yang mendalam."Aku benar-benar tidak mengerti." gumam Alice, menatap bergantian ke arah Elizabeth dan Lesley dengan mata yang memancarkan kebingungan. "Kenapa kita mendadak dikurung di sini? Apa kita telah melakukan kesalahan fatal semalam? Kudengar kondisi Yang Mulia Permaisuri sudah memba
Lucian tidak butuh waktu lama untuk memetakan kembali setiap detik kegilaan yang menimpanya semalam. Begitu Sienna kembali tertidur lelap setelah meminum ramuan obat dari tabib, Lucian beranjak menuju ruang kerja pribadinya yang terletak tidak jauh dari kamar utama.Wajahnya kini sedingin es. Amarahnya tidak lagi meledak-ledak, melainkan telah membeku menjadi niat membunuh yang sangat kental. Ia duduk di kursi kebesarannya sambil menatap meja yang kosong, sementara pikirannya bekerja dengan begitu cepat dan terukur."Damien." panggil Lucian pelan, namun suaranya menggema di ruangan yang sunyi itu.Sesosok pria dengan seragam ksatria hitam muncul dari balik bayangan, dan segera berdiri di hadapan Lucian. Damien, satu-satunya orang yang Lucian percaya dalam kondisi seperti ini."Ya, Yang Mulia?"Lucian mengeluarkan sebuah benda dari saku kemejanya. Sebuah sapu tangan sutra putih dengan sulaman benang emas berbentuk bunga lili di sudutnya yang telah ia tutup dengan sarung tangan lainny
Perlahan, Lucian mengalihkan pandangannya, menatap ke arah tiga dayang Sienna dan pelayan yang berada di kamar itu. "Keluar."Satu kata yang meluncur dari bibir Lucian terdengar sangat pelan, namun memancarkan otoritas dan ancaman yang begitu pekat hingga membuat udara di dalam kamar itu terasa membeku. "Kalian semua, keluar dari kamar ini sekarang juga."Para pelayan, beserta ketiga dayang yang masih berdiri tegang di sudut ruangan, tidak berani membantah apalagi menatap mata sang Kaisar. Mereka segera menunduk hormat dalam-dalam dan bergegas melangkah keluar, menutup pintu ganda itu rapat-rapat dan menyisakan sepasang suami istri tersebut di dalam keheningan.Beberapa waktu berlalu. Setelah memastikan napas Sienna mulai teratur dan suhu tubuhnya berangsur normal, Lucian memaksakan dirinya beranjak sebentar menuju ruang ganti. Ia membersihkan dirinya dengan cepat dan menanggalkan pakaiannya kemarin yang sudah berantakan, menggantinya dengan kemeja sutra hitam yang rapi. Sang Kais
Cahaya pagi yang pucat berusaha menyusup melalui celah-celah tirai tebal, namun dunia Kaisar Lucian masih gelap gulita.Sebuah erangan rendah yang serak lolos dari tenggorokan sang Kaisar. Kepalanya terasa berdenyut hebat, seolah baru saja dihantam palu. Ia mencoba membuka matanya, namun pandangannya terhalang. Ada seutas kain yang mengikat matanya dengan cukup erat.Dengan tangan yang masih terasa sedikit kaku dan kebas, Lucian merobek kain sutra gelap itu dari wajahnya dan melemparkannya ke lantai.Mata merahnya mengerjap, menyesuaikan diri dengan cahaya remang-remang. Ia menoleh ke sekeliling dengan waspada.Kosong.Lucian memijat pelipisnya. Kepingan ingatan dari malam sebelumnya mulai menghantam kepalanya secara bertubi-tubi.Ia teringat rasa panas yang tiba-tiba membakar nadinya. Ia mengingat gejolak gairah yang menyakitkan, hilangnya kendali atas tubuhnya sendiri, dan bagaimana ia nyaris menjadi binatang buas karena sebuah ramuan perangsang.Lalu... ingatannya terhenti pada si
"Kau gila?!" desis Elizabeth tertahan. Suaranya bergetar hebat oleh campuran amarah dan ketakutan yang mencekik lehernya. "Aku benar-benar akan dicurigai jika melakukan itu!"Tubuh Elizabeth merosot ke tepi ranjang. Tangannya masih mencengkeram erat wadah kaca kecil di balik punggungnya, menyembunyikannya seolah benda itu adalah bara api. Pikirannya kembali terlempar pada mimpi buruk yang baru saja menimpanya beberapa waktu lalu.Saat ia kembali ke kamarnya setelah meninggalkan aula dansa, Elizabeth menemukan sebuah kejanggalan. Laci meja riasnya sedikit terbuka. Ketika ia memeriksa isinya, jantung ELizabeth nyaris berhenti berdetak saat menemukan wadah kaca gelap tersebut tersembunyi di balik tumpukan sapu tangannya.Elizabeth sangat mengenali bubuk di dalamnya. Itu adalah obat perangsang dengan dosis luar biasa tinggi. Ayahnya, sang Duke, sempat menyodorkan barang yang sama persis kepadanya sebelum ia berangkat ke istana, menginstruksikannya untuk menggunakan segala cara demi men
Hmph.Sienna dapat mendengar suara dengusan pelan dari arah belakang sofa. Itu suara salah satu pelayan pribadi Alexandria yang tidak bisa menahan tawanya.Bagi telinga orang lain, suara itu mungkin terdengar samar. Namun bagi Sienna, di ruangan yang sunyi dan menyesakkan ini, suara itu terdengar b
Saat Lucian kembali masuk ke dalam kamar, pemandangan di depannya membuat hatinya menghangat.Sienna sudah bangun. Wanita itu duduk di tengah tempat tidur dengan selimut yang menutupi hingga pinggangnya, matanya mengerjap-ngerjap pelan menahan kantuk, dan rambut pirangnya sedikit berantakan. Wanita
Keheningan yang menyusul ucapan Alexandria terasa berat dan menyesakkan. Kata-kata wanita itu jelas merupakan kebenaran yang tak bisa disangkal. Hukum Kekaisaran, aturan Kuil Suci, dan tradisi para bangsawan akan menghalangi jalan Lucian jika dia tetap memaksa menggunakan Sienna untuk menyingkirka
"Itu..."Sienna meremas jemarinya sendiri yang saling bertaut di pangkuan, berusaha menyembunyikan getarannya. Lidahnya terasa kelu, bingung harus merangkai kata."Sienna?" panggil Lucian lagi, menuntut jawaban."Saya... saya hanya menemukannya tergeletak di kamar ini." jawab Sienna, memaksakan sua







