Share

BAB 241

Author: Rainina
last update publish date: 2026-04-02 17:41:20

Hampir satu jam berlalu dalam keheningan lorong yang menyiksa.

Terdengar bunyi decit pelan saat pintu kamar utama terbuka sedikit. Kepala Lady Alice melongok keluar dari balik celah pintu.

Wajah gadis itu tampak jauh lebih rileks dan tenang dibandingkan sebelumnya.

"Lady Lesley, kau boleh masuk sekarang." bisik Alice pelan. "Demam Yang Mulia Permaisuri sudah mulai turun dan beliau sudah tertidur pulas. Tabib bilang kondisinya sudah stabil, jadi kita tidak perlu khawatir lagi."

Mendengar kabar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 294

    Keheningan yang menyusul pengakuan Elizabeth terasa luar biasa berat.Di ambang pintu, rahang Lucian mengeras keras. Sang Kaisar menatap tajam ke arah Elizabeth, memproses fakta bahwa ksatria yang dituntut mati oleh Duke Mountford hari ini ternyata adalah pria yang telah menyelamatkan Kaisar dari jebakan paling menjijikkan.Sienna melangkah memecah ketegangan itu. Ia menunduk menatap sang putri Duke yang masih bersimpuh gemetar di atas karpet."Itu adalah pengakuan yang sangat serius, Lady Elizabeth." ucap Sienna, suaranya mengalun dingin dan penuh perhitungan. "Fakta bahwa kau mengetahui detail kejadian malam itu adalah pedang bermata dua. Tidak ada yang mengetahui insiden bubuk perangsang itu selain Damien dan segelintir ksatria bayangan. “Pengetahuanmu ini justru bisa membuatmu dimasukkan ke dalam daftar tersangka utama yang merencanakan jebakan tersebut."Elizabeth tidak menunduk. Meski air mata masih membasahi pipinya, ia menatap lurus ke arah sang Permaisuri dengan sorot keput

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 293

    Begitu pintu ganda kayu ek itu tertutup rapat, mengisolasi mereka dari dunia luar dan tatapan para ksatria penjaga, kaki Elizabeth seketika kehilangan seluruh kekuatannya.Sang putri Duke yang selalu tampil anggun dan penuh harga diri itu langsung menjatuhkan diri. Lututnya menghantam lantai yang dingin dengan suara berdebum keras. Gaun sutranya terkulai berantakan di sekelilingnya."Tolong saya, Yang Mulia..." isak Elizabeth parau. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, merendahkan dirinya hingga ke titik paling dasar. "Rowan tidak bersalah. Saya akan membuktikannya dengan cara apa pun... tolong selamatkan dia."Di depan perapian yang menyala hangat, Sienna dan Lucian saling melempar pandangan dalam diam.Di balik wajah datarnya, Lucian sebenarnya sudah menyetujui permintaan Sienna sebelumnya untuk menunda eksekusi dan mengambil alih penyelidikan. Mereka memang berniat menyelamatkan nyawa ksatria itu demi menjerat leher Alexandria.Namun... melihat Elizabeth yang hancur lebur di lant

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 292

    Di dalam kehangatan kamar utama kekaisaran yang tertutup rapat, Sienna bersandar nyaman di dada Lucian. Mereka duduk di atas sofa sementara teh kamomilnya mengepul pelan di atas meja. Dengan suara yang tenang, sang Permaisuri menceritakan rentetan insiden gila yang baru saja meledak di sayap barat pagi tadi.Lucian mendengarkan dalam diam, jemarinya yang besar terus mengusap lembut lengan istrinya. "Korbannya adalah pelayan pribadi Alexandria." ucap Sienna, memberikan penekanan pada kalimat tersebut. Ia mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata merah suaminya. "Pelayan yang ia bawa langsung dari kediaman Ashford."Kening Lucian berkerut samar. "Lalu?""Itu adalah pola yang sama persis, Lucian." desis Sienna. "Alexandria memiliki rekam jejak yang sangat konsisten dalam menjadikan pelayannya sendiri sebagai pion sekali pakai, sebagai tumbal demi memuluskan rencananya dan mencuci tangannya dari darah."Sienna membalikkan tubuhnya sedikit, menggenggam erat telapak tangan suaminya

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 291

    Elizabeth menoleh kaku, menatap wanita iblis di sampingnya dengan napas terengah."Buktikan kesetiaanmu padaku sekarang juga, dan aku akan menyelamatkan ksatriamu." bisik Alexandria. "Aku akan menyuruh pelayanku yang bodoh itu untuk membuka mulutnya di hadapan para ksatria penyelidik. Aku akan membuatnya mengaku bahwa dia yang sebenarnya menggoda Rowan, dan karena Rowan menolaknya, pelayan itu merasa sakit hati lalu merobek bajunya sendiri untuk memfitnah ksatriamu."Mata Alexandria berkilat, menawarkan jalan keluar yang mengharuskan Elizabeth untuk mengorbankan nyawa pelayan tak berdosa itu sebagai gantinya."Satu pengakuan kecil dari pelayanku, dan nama ksatriamu akan bersih. Ayahmu tidak akan memenggalnya." tawar Alexandria, menatap lurus menembus pertahanan Elizabeth. "Bagaimana? Nyawa Rowan... ada di tanganmu sekarang."Mata Elizabeth membelalak. Napasnya tercekat di tenggorokan saat menyadari makna sebenarnya dari tawaran busuk yang baru saja dilontarkan Alexandria."I-itu..."

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 290

    "Ayah, kumohon! Jangan, Ayah!"Jeritan Elizabeth membelah kesunyian ruang tamu agung. Ia kembali melemparkan dirinya ke depan, mencengkeram erat ujung jubah kebesaran Duke Mountford dengan jemari yang bergetar hebat. Air mata telah merusak riasannya, menghancurkan topeng keanggunan sang putri Duke hingga tak bersisa.Namun, langkah pria paruh baya itu hanya terhenti sesaat. Duke Mountford menunduk, menatap putrinya yang menangis tersedu-sedu di atas lantai dengan sorot mata yang sepenuhnya hampa."Lepaskan tanganmu, Putriku." titah sang Duke dingin. "Dia telah membuat kesalahan yang tak termaafkan. Binatang itu telah menyeret nama baik keluarga kita setelah aku menariknya dari kubangan lumpur. Hukuman mati adalah satu-satunya belas kasihan yang pantas ia terima.""Tidak! Rowan tidak bersalah!" bantah Elizabeth dengan suara parau, menolak melepaskan cengkeramannya. "Dia dijebak, Ayah! Ada konspirasi di balik semua ini! Kumohon... tolong beri aku waktu! Hanya beberapa hari... tidak, b

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 289

    "Mana ada pelayan yang waras menodai kehormatannya sendiri?! Dia berbohong untuk menyelamatkan nyawanya yang kotor setelah nafsu bejatnya ketahuan!""saya berani bersumpah atas nama dewa!" balas Rowan berapi-api, keringat dingin membasahi pelipisnya. "Surat itu ada padaku! saya bisa membuktikannya, coba periksa…"Rowan merogoh saku dalam jubah ksatrianya dengan panik, mencari-cari perkamen yang menjadi alasan kedatangannya. Namun, saku itu kosong. Tangannya meraba saku yang lain, wajahnya semakin memucat. Surat itu lenyap, entah terjatuh saat ia berlari kemari atau memang sejak awal ia telah diambil oleh seseorang di lorong tanpa ia sadari.Melihat Rowan yang membeku dengan tangan kosong, Alexandria melirik ke arah Elizabeth di ambang pintu. Tatapan mata wanita itu seolah berbicara dengan sangat jelas, Ini adalah akibat dari penolakanmu.Kau akan menyesalinya.Kalimat yang diucapkan Alexandria semalam bergema berulang-ulang di kepalanya seperti lonceng kematian. Kini ia paham sepenuh

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 65

    "LUCIAN!"Bentakan Beatrice memenuhi ruangan, memantul di dinding-dinding batu yang dingin. Wajah Duchess yang biasanya anggun kini merah padam menahan amarah. Dadanya naik turun dengan cepat."Apa kau sadar apa yang baru saja kau katakan?" desis Beatrice, suaranya bergetar antara murka dan rasa ma

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 68

    "Apa yang kau lakukan di sini, Arthur?" Lucian menatap tajam ke arah sang Putra Mahkota. Ia tidak repot-repot membungkuk atau memberikan salam formal pada sepupunya itu. Arthur tersenyum miring, tidak tersinggung dengan ketidaksopanan itu. Ia justru melangkah santai, mendekat pada Lucian."Aku sed

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 63

    "KYAAA!" Jeritan histeris salah seorang wanita bangsawan yang hadir di sana memecahkan keheningan yang sempat menggantung selama beberapa detik.Kepanikan meledak seketika. Kursi-kursi berdecit keras dan berjatuhan saat para wanita bangsawan itu melompat berdiri, menjauh dari meja seolah-olah penya

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 57

    Alexandria tidak mengatakan apa pun, lidahnya terasa kelu oleh amarah. Namun, tangannya yang mencengkeram pagar pembatas batu itu bergetar hebat. Ia menekan jemarinya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan kulit telapak tangannya terasa perih tergores permukaan batu yang kasar.Matanya y

    last updateLast Updated : 2026-03-21
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status