MasukSienna membuka mulutnya, bersiap melontarkan bantahan atau alasan logis tentang betapa gentingnya situasi mereka saat ini. Namun, kata-kata itu mati di ujung lidahnya.Ia menatap mata merah suaminya yang meredup, lalu tanpa sadar memutar kembali ingatannya selama beberapa hari terakhir. Sejak insiden demam itu, isi kepala dan setiap kalimat yang keluar dari mulut Sienna memang tidak pernah jauh dari kecurigaan, penyelidikan, dan strategi. Ia memperlakukan pria yang berdiri di hadapannya ini layaknya seorang jenderal perang, melupakan fakta bahwa pria ini adalah suaminya yang baru saja melewati hari-hari yang melelahkan.Sadar akan kesalahannya, perlahan Sienna kembali menutup mulutnya. Bahunya yang tegang sedikit menurun.Melihat istrinya terdiam, pria itu menghela napas panjang dan berat. Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka, lalu merengkuh tubuh ramping Sienna ke dalam pelukannya yang hangat dan protektif. Lucian membenamkan wajahnya di perpotongan leher Sienna, me
Di ruang kerja pribadi Kaisar, Lucian duduk dalam keheningan yang mencekam. Mata merahnya yang tajam menatap lurus ke arah seorang pria berpakaian serba hitam yang tengah berlutut dengan satu kaki di atas karpet. Pria itu adalah salah satu ksatria bayangan elitnya, anjing pelacak paling mematikan yang diutus secara khusus untuk membuntuti kepergian mendadak Lady Lesley tempo hari."Laporanmu." titah Lucian.Ksatria bayangan itu menundukkan kepalanya semakin dalam. "Sesuai perintah Anda, Yang Mulia. Saya mengikuti kereta kuda keluarga Saxony yang ditumpangi oleh Lady Lesley tanpa terdeteksi."Ksatria itu mengambil napas sejenak, suaranya terdengar sangat serius dan tegang."Alasan tentang Count Saxony yang sakit keras murni sebuah kebohongan, Yang Mulia. Count dan Countess dalam keadaan sehat. Namun, yang paling krusial adalah... saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bahwa Pangeran Arthur berada di sana."Keheningan seketika membungkus ruangan tersebut. Rahasia terbesar yang di
Dua hari kemudian, langit ibu kota tertutup awan kelabu, seolah mencerminkan suasana pekat yang kini mengungkung kamar utama kekaisaran.Di sekeliling meja teh bundar berukir emas di dekat jendela, tiga wanita duduk dalam keheningan yang luar biasa mencekik. Lady Lesley telah kembali ke istana pagi ini. Di balik gaun sutranya yang mengembang, perban ketat masih membalut betisnya yang terkoyak akibat pecutan ayahnya. Setiap kali ia memindahkan berat badannya, rasa perih yang luar biasa menyengat sarafnya. Namun, ia menahan rasa sakit itu mati-matian, memaksakan wajahnya untuk terlihat normal.Matanya yang gelisah sesekali melirik tajam ke arah Lady Elizabeth dari balik cangkir tehnya. Pikiran Lesley berkecamuk penuh kecurigaan. Apakah Elizabeth pion baru yang dimaksud Pangeran Arthur? batin Lesley. Arthur mengatakan ada dayang lain yang akan ditanam bersamanya. Jika Elizabeth benar-benar bekerja untuk Arthur juga, maka putri Duke itu adalah ancaman langsung bagi kelangsungan hidupn
"Kau sudah gila." ucap Elizabeth dingin . Ia menatap lekat-lekat wanita bergaun merah di hadapannya, mencari sisa-sisa kewarasan dari teman masa kecilnya itu, namun yang ia temukan hanyalah kegilaan di matanya.Mendengar perkataan itu, Alexandria justru memiringkan kepalanya. Senyum di bibirnya perlahan melebar, diiringi tawa pelan yang mengalun memuakkan."Gila?" ulang Alexandria, seolah kata itu adalah sebuah pujian yang manis. Ia melangkah maju, memaksa Elizabeth untuk mundur hingga punggungnya nyaris menabrak pintu yang menjadi pembatas antara balkon dan aula pesta. "Di Kekaisaran yang dikuasai oleh seorang tiran berdarah dingin dan seorang wanita sihir yang manipulatif, menjadi gila adalah hal yang normal, Elizabeth."Alexandria mencondongkan tubuhnya, menatap Elizabeth dengan sorot mata yang menguliti. "Buka matamu lebar-lebar. Kau pikir kau aman dengan terus menunduk dan berpura-pura bodoh di hadapan Sienna?”“Kau pikir pelacur itu tidak tahu bahwa ayahmu mengirimmu untuk men
Mata Elizabeth membelalak sempurna, seolah baru saja melihat hantu di hadapannya. Napasnya tercekat di tenggorokan. Nama itu... nama yang seharusnya sudah terkubur bersama sejarah berdarah perebutan takhta berbulan-bulan yang lalu."Apa... apa maksudmu?" tanya Elizabeth, suaranya bergetar hebat, nyaris tenggelam dalam deru angin malam di balkon. Ia melangkah mundur satu tindak, menjauh dari Alexandria. "Apa kau gila? Apa kau menemui mantan Putra Mahkota di penjara bawah tanah? Menghubungi tahanan politik kekaisaran adalah tindakan pengkhianatan berat, Alexandria!"Elizabeth benar-benar terguncang. Pelarian Pangeran Arthur dari penjara terdalam istana adalah rahasia tingkat tinggi yang dijaga ketat oleh Lucian dan Damien. Bahkan seorang putri Duke seperti dirinya pun tidak mengetahui fakta tersebut. Baginya, Arthur masih membusuk di kegelapan bawah tanah.Alexandria justru tertawa kecil melihat kepanikan Elizabeth. Tawa yang terdengar sangat merdu namun mengerikan di tengah kesunyia
"Lexy." jawab Elizabeth pelan. Suaranya nyaris tenggelam oleh alunan musik orkestra, namun cukup jelas untuk menggemakan kepingan masa lalu di antara mereka. Dulu, bertahun-tahun yang lalu sebelum bayang-bayang kekuasaan dan ambisi membutakan mata, mereka adalah teman dekat. Mereka kerap menghabiskan waktu bersama, berbagi teh, tawa, dan rahasia layaknya gadis bangsawan pada umumnya. Namun, semua itu perlahan hancur ketika Alexandria resmi ditetapkan sebagai tunangan Duke of Lorraine.Kesombongan sebagai calon istri penguasa utara itu benar-benar mengambil alih kewarasan Alexandria. Wanita itu mulai merasa dirinya memiliki status yang jauh lebih tinggi dari siapapun di kekaisaran. Alexandria bahkan mulai bertingkah angkuh dan merendahkan Elizabeth, seolah lupa bahwa Elizabeth adalah seorang putri Duke yang memiliki kedudukan tak kalah tinggi. Persahabatan mereka pun menguap tanpa sisa, digantikan oleh dinding arogansi yang dibangun Alexandria sendiri.Mendengar nama kecilnya dipa
Riuh seketika meledak, memenuhi setiap sudut aula yang megah itu sesaat setelah pengumuman sang Kaisar bergema.Kali ini, tidak ada lagi yang menyembunyikan bisik-bisik mereka. Aturan kesopanan seolah dilupakan. Seluruh
Begitu mereka melangkah lebih jauh ke dalam aula, beberapa bangsawan yang didorong oleh rasa penasaran, ambisi politik, atau sekadar ingin menjilat, mulai mencoba mendekat.Mereka memasang senyum pal
Mendengar ucapan Alfred, keheningan yang mencekam langsung memenuhi ruang kerja Lucian.Bahkan Damien, ksatria bayangan yang terlatih untuk tidak menunjukkan emosi, terlihat kaget. Matanya membelalak menatap Alfred. Ia
Arthur mendengarkan bisikan dari pelayan pribadinya dengan ekspresi tenang. Matanya sesekali melirik ke arah Alexandria, membuat wanita itu semakin gelisah.Setelah menyampaikan pesannya, pelayan itu membungkuk dalam da







