LOGINDunia Elizabeth seketika berhenti berputar. Udara di dalam ruang kerja yang pengap itu terasa ditarik habis dalam satu kedipan mata, mencekik paru-parunya hingga ia tak bisa lagi menarik napas. Wajah Rowan senyum tipisnya yang selalu menenangkan, tatapan matanya saat pria itu bersumpah untuk melindunginya, akhirnya hancur berkeping-keping menjadi abu.Segala kekuatan yang menopang tubuh gadis itu menguap tak bersisa.Kakinya yang gemetar hebat tak lagi sanggup menahan berat badannya. Gaun sutranya berdesir saat tubuh ramping sang putri Duke itu ambruk sepenuhnya, membentur lantai dengan bunyi dentuman yang cukup keras.Kegelapan yang pekat langsung menelan kesadarannya, membawanya lari dari realitas yang terlalu kejam untuk ditanggung oleh hatinya."Lady Elizabeth!"Seorang pelayan tua yang sejak tadi berdiri gemetar di ujung ruangan memekik tertahan. Melupakan sejenak ketakutannya pada sang majikan, pelayan itu berlari tergesa-gesa menghampiri tubuh Elizabeth yang tergeletak tak ber
Persidangan berdarah itu telah usai, namun badai di hati Lady Elizabeth sama sekali belum mereda.Mengetahui bahwa ayahnya, sang Duke Mountford, tidak langsung kembali ke wilayah selatan dan masih berada di kediaman mereka di ibu kota, kepanikan Elizabeth semakin memuncak. Ia tahu ini adalah satu-satunya kesempatan untuk menghentikan pasukan pembunuh itu.Elizabeth tidak membuang waktu untuk menemui Permaisuri Sienna yang baru saja kembali ke ruang pribadinya."Yang Mulia, izinkan saya menemui ayah saya sekarang juga." mohon Elizabeth dengan suara bergetar dan wajah pucat pasi.Sienna menatap dayangnya dengan penuh simpati. Ia tahu seberapa berbahaya Duke Mountford. "Bersabarlah sebentar, Elizabeth. Tunggu hingga urusanku di sini selesai. Aku sendiri yang akan menemanimu menghadap Duke, agar ayahmu tidak berani bertindak macam-macam padamu."Namun, teror telah menguasai akal sehat Elizabeth. Waktu terus berjalan, dan setiap detiknya bisa berarti nyawa Rowan melayang di medan perang
Di atas singgasana, Kaisar Lucian duduk dengan postur tegap. Di pelataran, Lady Alexandria Ashford dipaksa berlutut dengan rantai perak membelenggu tangannya. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini terlihat berantakan. Tidak jauh darinya, Marquess Ashford yang baru saja tiba di istana dengan kuda yang kelelahan berdiri dengan wajah pucat pasi dan napas memburu. Suara bariton Sir Damien menggelegar ke seluruh penjuru ruang takhta, membacakan gulungan perkamen yang berisi daftar kejahatan Alexandria tanpa ampun."Kejahatan pertama: Pengkhianatan tingkat tinggi." lantang Damien. "Lady Alexandria Ashford terbukti merancang percobaan pembunuhan terhadap Yang Mulia Permaisuri menggunakan racun, dengan cara bekerja sama dan bersekongkol dengan pengkhianat kekaisaran, Pangeran Arthur."Gumam terkejut merayap di antara barisan bangsawan yang hadir."Kejahatan kedua: Pemerasan dan ancaman." lanjut Damien. "Lady Alexandria terbukti mengancam dan mencoba memaksa dayang pribadi Permaisuri, Lady
Mendengar penjelasan Damien, Elizabeth merasa bahwa seluruh darahnya seolah tersedot keluar.Dunia di sekelilingnya mendadak berputar cepat. Udara di ruang minum teh yang hangat terasa berubah menjadi bongkahan es yang menusuk paru-parunya. Pria bodoh itu…Tubuh Elizabeth mendadak kehilangan tenaga. Tubuhnya limbung ke samping, tak sanggup lagi menopang berat dari keputusasaan yang menghantamnya."Lady Elizabeth!"Seruan panik Alice memecah keheningan. Dayang yang duduk di samping Elizabeth itu langsung menahan bahunya, seolah takut Elizabeth benar-benar akan merosot ke lantai."Kenapa..." bisik Elizabeth pelan. Suaranya terdengar begitu parau dan hampa, seolah nyawanya baru saja ikut tercabut. "Kenapa kau membiarkannya pergi ke sana..."Damien mematung di tempatnya. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menghindari tatapan hancur dari putri sang Duke. Pria itu sudah melakukan tugasnya seperti yang diperintahkan. Tapi..."Kenapa, Damien?"Suara Sienna memotong, mengulang pertanyaan
Mendengar teguran dari sang Permaisuri, pertahanan Lady Elizabeth akhirnya runtuh.Gadis yang selalu tampil dengan postur tegap dan tanpa cela itu menundukkan kepalanya dengan begitu dalam."Ampuni kelancangan saya, Yang Mulia." bisik Elizabeth. "Pikiran saya... terus diganggu oleh perkataan Lady Alexandria di penjara bawah tanah kemarin.""Wanita itu mengatakan bahwa pelarian Rowan tidak akan ada gunanya." lanjut Elizabeth dengan napas tersengal. Kepanikan yang sejak semalam ia kubur rapat-rapat akhirnya meluap. "Alexandria memberitahu saya bahwa ayah saya, Duke Mountford, telah mengirim sekelompok ksatria untuk memastikan Rowan tidak pernah kembali. Jika mata-mata ayah saya mengetahui rute pelarian yang sebenarnya... mereka akan menyusulnya, Yang Mulia. Mereka akan membunuhnya."Ruangan itu hening sejenak. Keputusasaan Elizabeth terasa begitu nyata dan menyayat hati. Gadis itu telah mengorbankan segalanya, dan kini pria yang coba ia lindungi berada di ujung tanduk.Namun, alih-al
Sienna menarik napas perlahan, membiarkan dadanya mengembang. Matanya yang jernih menatap lurus ke dalam manik mata merah suaminya, membiarkan ingatannya mundur ditarik ke masa lalu, ke sudut-sudut paling gelap dalam hidupnya.Ada masa di mana bayangan tentang kehamilan adalah sebuah teror yang mencekik lehernya setiap malam.Masa di mana ia merasa begitu tertekan dan tidak berguna, hingga langkah kakinya selalu terasa seberat timah setiap kali ia harus menghadiri jamuan teh bersama sang Ibu mertua. Ia begitu takut. Takut tatapan merendahkan itu kembali menelanjanginya, takut kegagalannya untuk mengandung akan menjadi topik obrolan mereka lagi dan lagi, seolah rahimnya adalah kutukan bagi kekaisaran ini."Dulu... kau mungkin benar, Lucian." lanjut Sienna pelan. Suaranya mengalun lembut, memecah keheningan peraduan yang hanya diisi oleh suara gemeretak kayu bakar. "Dulu, aku mungkin akan hancur lebur hanya dengan mendengar kata 'selir' diucapkan di depanku."Ibu jari Lucian berhenti m
Napas Lucian tersengal. Panas di tubuhnya semakin menjadi-jadi akibat sentuhan Alexandria. Obat itu berteriak padanya untuk menyerah, untuk memeluk tubuh wanita di hadapannya dan menuntaskan hasrat yang membakar dirinya dari dalam.Tapi wajah kecewa Sienna saat melihatnya tadi memenuhi kepala Lucia
"Apa yang kau lakukan?"Suara bariton yang berat itu mengejutkan Sienna, membuatnya nyaris menjatuhkan pipet kaca di tangannya.Sienna menoleh cepat. Di ambang pintu yang menghubungkan kamar tidur utama dengan kamar Sienna, Lucian berdiri dengan tangan terlipat di dada. Pria itu menatapnya dengan a
"Nona... apa Anda yakin?"Pelayan pribadi Alexandria bertanya dengan suara gemetar. Tangannya memegang lentera kecil, menerangi lorong sempit di balik dinding kastil yang biasanya hanya dilewati oleh tikus dan pelayan yang menuju kamar tuannya.Alexandria menatap pelayan itu dengan tajam, matanya b
"....Apa?"Air mata Sienna berhenti sepenuhnya, kesedihannya menguap begitu saja digantikan oleh kebingungan atas perkataan Lucian.Lucian tidak menjawab dengan kata-kata manis. Ia menarik tubuh mungil Sienna ke dalam pelukan erat. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu, menghirup aroma







