Di dalam kamar tidur yang kini terasa bagaikan sel tahanan mewah, isak tangis Elizabeth perlahan mereda menjadi rintihan tertahan.Caesar berlutut di atas karpet tebal, kedua tangannya yang berlapis sarung tangan kulit mencengkram bahu adiknya yang bergetar. Wajah keras sang pewaris Duchy itu menegang, berusaha mencari kebohongan di mata adiknya."Apa yang dikatakan Ayah benar, Elizabeth?" tanya Caesar. "Apa kau... benar-benar mencintai Rowan?"Elizabeth membuang mukanya ke arah perapian yang padam. Ia menolak menatap mata kakaknya, apalagi menjawab pertanyaan itu. Namun, bagi Caesar, keheningan adiknya dan air mata yang terus mengalir membasahi pipi pucat itu adalah jawaban yang paling lantang.Caesar menghela napas panjang, merenggut frustasi hingga rahangnya bergemeretak.Sebagai seorang kakak, ia sangat menyayangi Elizabeth. Dan sebagai seorang pria, ia sangat menghargai Rowan. Mereka tumbuh bersama, Rowan adalah teman masa kecilnya, rekan tanding yang paling tangguh, dan ksatr
Ler mais