Share

BAB 321

Author: Rainina
last update publish date: 2026-04-24 15:24:15

Alun-alun utama istana kekaisaran yang membentang luas jarang sekali digunakan untuk persidangan.

Tempat itu biasanya dikhususkan untuk festival perayaan kemenangan atau pengumuman titah kekaisaran.

Namun pagi ini, alun-alun itu diselimuti oleh aura kematian yang pekat.

Langit masih berselimut awan kelabu sisa badai semalam. Angin dingin berhembus membawa ketegangan yang membuat puluhan ribu pasang mata menahan napas.

Atas perintah sang Kaisar, gerbang istana luar dibuka lebar. Tidak hanya pa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 335

    "Apa maksudmu, Ayah?" tuntut Caesar, suaranya meninggi, menolak untuk mundur meski berhadapan dengan sang penguasa wilayah. "Kerusakan apa?! Tolong jelaskan dengan bahasa yang bisa kumengerti!"Wajah Duke Mountford mengeras. Alih-alih menjawab pertanyaan putra sulungnya, rahang pria paruh baya itu menegang. Ia memutar bola matanya dengan muak dan menoleh ke arah kepala pelayan yang berdiri kaku di dekat pintu masuk semenjak menyambut kedatangannya tadi."Kumpulkan semua surat dan dokumen dari keluarga bangsawan yang pernah meminta putriku untuk menjadi istri mereka." titah Duke Mountford dengan suara yang menggelegar ke seluruh penjuru aula. "Bawa semuanya ke ruang kerjaku malam ini juga. Aku akan menyeleksi mereka dan menentukan tanggal pernikahannya secepat mungkin."Caesar mengerutkan keningnya dalam-dalam. Matanya terbelalak tak percaya."Apa?!" seru Caesar, benar-benar kehilangan ketenangannya. Ia menatap ayahnya seolah pria itu baru saja kehilangan akal sehatnya. "Pernikahan?

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 334

    Gerbang besi raksasa yang dihiasi ukiran lambang kebanggaan klan Mountford, terbuka dengan bunyi derit yang memekakkan telinga, menyambut kepulangan sang penguasa wilayah selatan. Namun, kepulangan kali ini sama sekali tidak terasa seperti sebuah kemenangan. Suasana di kediaman utama Duchy Mountford mendadak berubah mencekam, seolah awan hitam dari ibu kota ikut berarak mengikuti rombongan tersebut.Lord Caesar Mountford, putra sulung sekaligus pewaris takhta Duchy, berdiri di selasar lantai dua saat ia melihat kereta kuda ayahnya memasuki pelataran. Ia baru saja kembali dari peninjauan perbatasan wilayah selatan dan bermaksud menyapa ayahnya, meski hubungan mereka selalu dibatasi oleh tembok formalitas yang dingin.Caesar turun ke aula utama tepat saat pintu besar mansion terbuka. Wajahnya yang kaku dan rahangnya yang tegas memberikan impresi pria yang hanya hidup untuk aturan dan logika."Selamat datang kembali, Ayah." ucap Caesar dengan nada datar, nyaris tanpa emosi. Ia berdiri

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 333

    Kertas perkamen di tangan Lucian remuk sepenuhnya dalam kepalan tangannya yang kuat. Urat-urat di lengan sang Kaisar menonjol, memancarkan kemarahan yang coba ia tahan."Lucian... dia melakukan itu tanpa izinku." ucap Sienna. "Membawa pergi Dayang Permaisuri tanpa izinku. Dan aku yakin alasan sakit itu sangat dibuat-buat. Elizabeth baik-baik saja saat ia meninggalkan istana.."Lucian melempar remasan surat itu ke lantai seolah benda itu adalah sampah yang menjijikkan. "Tindakan ini tidak bisa dibiarkan." ucap Lucian. "Seorang Duke, tidak peduli apa statusnya, tidak memiliki hak untuk mencuri orang dari sisi Permaisuri. Aku akan mengirimkan ksatria dan pembawa pesan resmi kekaisaran saat ini juga. Jika dia menolak menyerahkan Elizabeth, itu akan dianggap sebagai pemberontakan terbuka."Sienna melangkah maju, menyentuh lengan suaminya. "Lucian, izinkan aku pergi secara langsung."Lucian seketika menoleh, tatapannya menajam. "Apa?""Aku harus menjemputnya sendiri." desak Sienna, matany

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 332

    Rombongan Duke Mountford melaju membelah jalanan dengan kecepatan yang nyaris tidak masuk akal. Kuda-kuda berpacu tanpa ampun, roda-roda kereta berderak kasar melindas bebatuan dan lumpur sisa hujan, meninggalkan ibu kota kekaisaran secepat dan sejauh mungkin.Malam itu, mereka mengambil alih sebuah penginapan besar yang terletak di kota persinggahan pertama menuju wilayah selatan. Seluruh tamu reguler telah diusir paksa, dan puluhan ksatria berzirah kini berjaga ketat membentuk barikade di setiap pintu dan jendela bangunan kayu tersebut.Di kamarnya, Duke Mountford duduk di kursi berlengan. Jubah bulu beruangnya disampirkan di bahu. Suara derap langkah sepatu bot yang terburu-buru memecah keheningan ruangan itu. Felix, ajudan kepercayaan sang Duke yang telah mengabdi selama belasan tahun, melangkah masuk. Pria paruh baya itu tampak kelelahan, debu jalanan masih menempel tebal di jubahnya."Tuan Duke." panggil Felix, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Surat pemberitahuan Anda tela

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 331

    Dunia Elizabeth seketika berhenti berputar. Udara di dalam ruang kerja yang pengap itu terasa ditarik habis dalam satu kedipan mata, mencekik paru-parunya hingga ia tak bisa lagi menarik napas. Wajah Rowan senyum tipisnya yang selalu menenangkan, tatapan matanya saat pria itu bersumpah untuk melindunginya, akhirnya hancur berkeping-keping menjadi abu.Segala kekuatan yang menopang tubuh gadis itu menguap tak bersisa.Kakinya yang gemetar hebat tak lagi sanggup menahan berat badannya. Gaun sutranya berdesir saat tubuh ramping sang putri Duke itu ambruk sepenuhnya, membentur lantai dengan bunyi dentuman yang cukup keras.Kegelapan yang pekat langsung menelan kesadarannya, membawanya lari dari realitas yang terlalu kejam untuk ditanggung oleh hatinya."Lady Elizabeth!"Seorang pelayan tua yang sejak tadi berdiri gemetar di ujung ruangan memekik tertahan. Melupakan sejenak ketakutannya pada sang majikan, pelayan itu berlari tergesa-gesa menghampiri tubuh Elizabeth yang tergeletak tak ber

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 330

    Persidangan berdarah itu telah usai, namun badai di hati Lady Elizabeth sama sekali belum mereda.Mengetahui bahwa ayahnya, sang Duke Mountford, tidak langsung kembali ke wilayah selatan dan masih berada di kediaman mereka di ibu kota, kepanikan Elizabeth semakin memuncak. Ia tahu ini adalah satu-satunya kesempatan untuk menghentikan pasukan pembunuh itu.Elizabeth tidak membuang waktu untuk menemui Permaisuri Sienna yang baru saja kembali ke ruang pribadinya."Yang Mulia, izinkan saya menemui ayah saya sekarang juga." mohon Elizabeth dengan suara bergetar dan wajah pucat pasi.Sienna menatap dayangnya dengan penuh simpati. Ia tahu seberapa berbahaya Duke Mountford. "Bersabarlah sebentar, Elizabeth. Tunggu hingga urusanku di sini selesai. Aku sendiri yang akan menemanimu menghadap Duke, agar ayahmu tidak berani bertindak macam-macam padamu."Namun, teror telah menguasai akal sehat Elizabeth. Waktu terus berjalan, dan setiap detiknya bisa berarti nyawa Rowan melayang di medan perang

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 67

    Tidak butuh waktu lama bagi Lucian untuk menyeberangi kastil menuju sayap barat. Langkah kakinya lebar dan cepat. Para ksatria yang mengikutinya harus setengah berlari untuk menyamakan langkah dengan amarah tuan mereka.Lucian tiba di depan pintu ganda kamar tamu mewah yang ditempati Alexandria. Ta

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 64

    Suara langkah kaki berat menggema di lorong kastil, membelah keheningan mencekam yang memenuhi seluruh bangunan sejak tadi. Lucian telah kembali.Ia memacu kudanya tanpa henti begitu mendengar kabar kekacauan di pesta teh itu melalui surat yang dibawa oleh merpati. Ia juga memberikan sebuah perinta

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 60

    Satu minggu telah hampir berlalu tanpa Sienna sadari. Besok adalah hari pesta teh Duchess Beatrice.Kastil terasa jauh lebih dingin dan sunyi dari biasanya. Duke Lucian tidak ada di sini. Sudah tiga hari pria itu pergi ke perbatasan wilayah untuk menyelesaikan masalah perdagangan di perbatasan wila

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 62

    Suasana di meja itu terasa semakin mencekik seiring berjalannya waktu. Sienna mencoba menyentuh cangkirnya tehnya setenang mungkin, namun tangannya sedikit gemetar. Sienna sudah pernah hadir di acara minum teh wanita bangsawan sebelumnya.Tapi kali ini, tekanan yang ia rasakan begitu memebani dadan

    last updateLast Updated : 2026-03-22
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status