"Jangan mendekat, Dalton."Dalton membeku, tangannya yang kapalan menggantung kaku di udara, langkah kakinya seketika berhenti. Ana duduk di pinggir pembaringan, matanya menatap nakas, enggan menatap lelakinya, sebab rasa rindu ini begitu menggebu, ingin Ana memeluk tubuh tegap yang selalu dia rindu, kedua tangannya mendekap perutnya yang membuncit, seolah sedang melindungi hartanya yang paling berharga. "Katakan, kenapa kamu terus mengejar ku," ucap Ana, suaranya parau tapi tegas, membelah keheningan. "Jika kamu mencariku untuk kembali mengurungku! memuaskan egomu." Ana menggeser kepala, menatap wajah Dalton, mata mereka bertemu. "Kamu tak akan pernah mendapatkannya, Dalton." Dalton menelan ludah yang terasa seperti duri di tenggorokannya. Ia menatap istrinya dari jarak tiga meter—jarak yang terasa lebih jauh dari Italia ke Indonesia. Ia melihat tangan Ana yang gemetar di atas perutnya. "Aku tidak datang untuk egoku, Ana," suara Dal
Zuletzt aktualisiert : 2026-04-03 Mehr lesen