Bab 11: Tembok Ratapan SeowonGerbang Perbatasan Sektor 4 berdiri seperti raksasa besi yang menelan cakrawala. Tembok beton setinggi lima puluh meter itu bukan hanya berfungsi memisahkan kemegahan Seowon dari busuknya Sektor Hitam, tetapi juga menjadi simbol keangkuhan Penasihat Kael. Di balik dinding itu, kehidupan berjalan steril dan sempurna, sementara di sisi sini, manusia membusuk dalam bayang-bayang.Hamin berdiri di atas bukit puing, menatap barisan sensor laser yang menyisir permukaan tanah seperti mata iblis yang kelaparan. Di belakangnya, Unit 7 telah bersiap di dalam kendaraan lapis baja hasil jarahan. Wajah-wajah mereka pucat, namun mata mereka menyala dengan pendar ungu—tanda bahwa mana hitam telah menyatu dengan aliran darah mereka."Hanya butuh satu celah," bisik Hamin. Suaranya hampir tenggelam oleh deru mesin yang bising. "Begitu celah itu terbuka, jangan menoleh ke belakang. Jika kalian jatuh, biarkan tanah ini menelan kalian sebagai pejuang, bukan sebagai budak."Ar
Read more