---### **Bab 30: Pendakian di Atas Duri**Lantai dasar Menara Kehampaan adalah labirin yang terbuat dari penyesalan. Udara di sini terasa berat, berbau belerang dan memori yang membusuk. Setiap kali Hamin melangkah, *Void-Drive* di dadanya berdenyut biru elektrik, mengeluarkan suara dengung yang memekakkan telinga sebagai peringatan bahwa jantung bioniknya sedang dipaksa bekerja melampaui batas absolut."Hamin... jangan teruskan..."Hamin tersentak. Di depannya, di tengah aula yang gelap, berdiri sosok Haneul. Bukan Haneul yang mengenakan gaun hitam dengan mata perak dingin, melainkan Haneul yang dulu—mengenakan celemek masak kesukaannya, rambutnya sedikit berantakan, dan senyumnya yang sehangat sinar matahari pagi."Pulanglah, Hamin. Aku sudah membuatkan sup jagung kesukaanmu," ucap bayangan itu dengan suara yang begitu lembut hingga sanggup meruntuhkan pertahanan baja mana pun.Hamin memejamkan mata, tangannya mencengkeram gagang pedang bioniknya hingga buku-bukunya memutih. "Kau b
Read more