BAB 51 Ibra tersenyum kecil, matanya mengerling jenaka. “Okey, jadi kamu sebenarnya lebih baik dari yang aku kira?” Zea membalas tatapan itu sambil mengerucutkan bibirnya, sebuah gestur yang justru terlihat manis di mata Ibra. “Nggak jelas,” gumamnya pelan. Ibra terkekeh, namun tawanya perlahan menyurut, digantikan oleh sorot mata yang lebih dalam. “Kamu punya masalah sama mereka, Ze?” Zea terdiam. Lagi-lagi, ia hanya memandang Ibra tanpa suara. Ia sedang menimbang, seberapa banyak ia bisa membagi beban ini tanpa terlihat menyedihkan. Membuat Ibra menjadi gemas. Lelaki itu bahwa Zea sedang berusaha untuk menutupi sesuatu. Ibra mendesah, lalu mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. “Oke, aku paham. Kamu belum mau cerita. Aku nggak akan maksa.” Zea meringis, merasa sedikit bersalah karena terus menerus menolak memberi jawaban pada pertanyaan pertanyaan yang Ibra lontarkan. “Maaf ya, Mas.” “No, jangan minta maaf. Santai aja.” sahut Ibra lembut. Hal terakhir yang ingin ia
Última actualización : 2026-02-19 Leer más