BAB 69Arkan menarik napas panjang, berusaha mengendalikan gemuruh di dadanya yang kian menyesakkan.Di hadapannya, Naya masih terisak hebat, tubuhnya berguncang oleh emosi yang tumpah ruah. Dengan sisa-sisa kesabaran yang ia miliki, dengan sebelah tangannya yang besar, Arkan berusaha menggenggam kedua tangan Naya, menghentikan pukulan-pukulan lemah yang sedari tadi mendarat di dadanya, lalu membawa perempuan itu duduk kembali ke sofa.Wajah Naya yang sembab tampak memerah, riasannya semakin tak karuan, dan kedua matanya yang bengkak.Meski Arkan sadar sepenuhnya bahwa ia tak lagi memiliki ruang untuk mencintai Naya, namun melihat kondisi perempuan itu, ia tak bisa menampik timbulnya secercah rasa iba di lubuk hatinya. Bagaimanapun, mereka telah menghabiskan bertahun-tahun bersama. Merenda kasih yang dialasi kebohongan.“Duduk dulu, Nay. Tenang dulu,” bujuk Arkan dengan suara rendah, mencoba meredam histeria yang
Last Updated : 2026-03-09 Read more