BAB 36 “Dasar buaya,” Zea mendengus setelah terdiam sebentar, tapi nada suaranya jelas menahan tawa. Arkan ikut tertawa, pendek namun lepas. “Iya, iya… maaf. Cuma bercanda, sori yaa.” “Ish,” sahut Zea lagi. “Jangan dibiasiin.” “Siap,” jawab Arkan cepat, masih dengan sisa senyum di suaranya. Percakapan mengalir ringan, seperti lagu lama yang diputar pelan dan tubuh bergerak mengikuti melodinya yang familiar. Tawa kecil sesekali muncul, lalu menghilang, digantikan jeda-jeda yang tak menuntut apa pun. Arkan berhenti berhati-hati pada setiap kata. Tubuhnya ikut rileks, bahunya turun, napasnya kembali menemukan ritmenya sendiri. “Apa nggak kecepetan Mas, kalo besok udah langsung mulai kerja?” Tanya Zea. “Nggak, aku udah istirahat kelamaan. Malah kangen baca berkas.” “Hmm….” “Jadi kapan beresin granit ku?” “Ah ya…, Mas maunya kapan? Biar nanti aku konfirmasi ulang ke Bang Raka” “Besok atau lusa gimana?” Dan akhirnya diputuskanlah hari mereka akan bertemu kembali di ka
Última actualización : 2026-02-03 Leer más