BAB 50 “Ze…,” tegur Ibra pelan. Lelaki itu melambaikan tangannya tepat di depan wajah Zea. Tatapan Zea yang sedari tadi kosong, perlahan mulai fokus kembali. Zea mengerjap, lalu meringis canggung. Ia baru sadar kalau dirinya sudah terlalu lama tenggelam dalam pusaran pikirannya sendiri. Ibra melipat kedua tangannya di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke arah Zea dengan ekspresi serius “Aku perhatiin kamu dari tadi kayak bengong terus. Kenapa sih? Ada masalah apa? Aku siap dengerin lho,” tanya Ibra lembut, namun ada nada menuntut di sana. Zea menggeleng pelan, mencoba memaksakan senyum tipis. “Nggak apa-apa, Mas. Cuma tiba-tiba kepikiran sesuatu aja barusan. Maaf ya.” “Biasanya cewek kalau ngomong nggak apa-apa, berarti ada apa-apanya,” sahut Ibra, mencoba memancing kejujuran Zea dengan gaya santai. “Masa sih,” balas Zea singkat, masih dengan senyuman di wajahnya. “Iya, siapa tau aku bisa bantu, kan.” Tambah Ibra lagi sambil memandang penuh arti. Percakapan itu terpak
Última actualización : 2026-02-18 Leer más