"Senyum," desis Arlan tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang ramah.Lia memaksakan sudut bibirnya naik. Itu senyum yang kaku, rapuh, dan menyedihkan. Tapi bagi orang-orang di sana, itu terlihat sebagai senyum pemalu dari seseorang yang baru pulih.Arlan membawa Lia melewati koridor panjang menuju ruang rapat utama. Kaca-kaca transparan menampilkan pemandangan kota di bawah kaki mereka."Lihat itu, Lia," Arlan menunjuk ke luar jendela sambil berjalan. "Semua ini... gedung-gedung ini, jaringan data yang mengalir di bawah tanah... semuanya milikku. Dan sebentar lagi, milikmu juga.""Aku tidak menginginkannya," gumam Lia pelan."Kau akan belajar menginginkannya," balas Arlan santai. "Kael hanya bisa memberimu kastil pixel dan emas virtual. Aku memberimu kekuasaan nyata."Mereka sampai di depan pintu ganda ruang rapat. Sekretaris Arlan, seorang wanita muda yang tampak gugup, membuka pintu itu.Di dalam, duduk lima orang pria tua dengan setelan jas mahal. Investor utama."Ah, Tuan Arlan!" Sa
Last Updated : 2026-02-07 Read more