Matteo tidak memberi waktu bagiku untuk berpikir. Begitu aku mengambil langkah maju, ia sudah bergerak lebih dulu. Cepat. Terlalu cepat. Sebelum pukulanku membelah udara, tangannya yang kasar sudah menangkap pergelanganku. Ia memutar tubuhku, tapi kali ini tidak langsung membantingku. Ia menahanku dalam posisi terkunci dari belakang, punggungku menempel pada dadanya, lengannya melilit di leherku, cukup longgar untuk tidak menyakitiku, cukup kuat untuk mengingatkanku bahwa ia bisa mematahkannya kapan saja. “Lebih cepat,” bisiknya di telingaku. “Kebencianmu itu... lambat. Kalau kau menyerang dengan keraguan, musuh akan memakanmu hidup-hidup sebelum kau sempat berkedip.” Aku menggeram pelan, rasa panas menyulut dadaku. Aku muak dengan ceramahnya, muak dengan caranya mendikte hidupku. Tanpa peringatan, aku menghentakkan tumitku sekuat tenaga ke arah tulang kering dan kakinya. TAK. Ia mendesis pelan, bukan karena kesakitan, lebih karena terkejut. “Bagus,” gumamnya, ad
Last Updated : 2026-02-14 Read more