Lukas tidak menunjukkan sedikit pun rasa gentar. Alih-alih marah atau tersinggung, ia justru menepuk tangan Dominic yang sebelumnya mencengkeram kerahnya, seolah itu hanyalah gangguan kecil yang tidak layak dipermasalahkan. Gerakannya santai, terlalu santai untuk situasi yang baru saja nyaris meledak. Ia lalu merapikan kembali setelan abu-abu peraknya, menarik garis bahu jasnya dengan elegan, memastikan tidak ada lipatan yang merusak kesempurnaan penampilannya. “Santai saja, Dominic,” ucapnya ringan. Senyumnya tipis, tapi penuh makna. “Kita akan menjadi keluarga sebentar lagi.” Ia berhenti sejenak, lalu sedikit memiringkan kepala, menatap Dominic dengan tatapan yang lebih dalam. “Kecuali…” nada suaranya berubah, lebih pelan, lebih menusuk, “kau punya keberatan pribadi?” Dominic tidak menjawab, namun rahangnya mengeras. Dan itu sudah cukup menjadi jawaban. Lukas tampak puas. Ia beralih menatapku. Tatapannya langsung berubah, lebih hangat, lebih ramah. “Ayo, Nadine,” ka
Read more