LOGIN"Sayang sekali..."Gumam pelan itu memotong makian Clarissa. Suaranya terdengar sangat polos dan nyaris seperti bisikan, namun anehnya mampu membelah ketegangan di ruang makan utama mansion Cokro yang luas tersebut.Kukuh masih menunduk sambil memegang nampan kosong. Ia tidak memohon ampun atau menunjukkan kepanikan seperti pelayan pada umumnya. Ia justru menghela napas pelan, menatap lurus ke perhiasan di dada wanita itu dengan raut wajah prihatin yang dibuat-buat."Nona Clarissa marah-marah karena gaun yang sangat mahal," lanjut Kukuh dengan nada tanpa dosa. "Padahal Tuan Dion baru saja ditipu habis-habisan oleh kolektor itu. Safir hitam yang Nona banggakan itu ternyata cuma barang tambalan."Hening.Ruang makan utama bergaya Eropa klasik itu mendadak senyap. Wajah Clarissa yang tadinya merah padam karena amarah, kini berkerut bingung.Dion mendengus kasar, memaksakan sebuah tawa arogan yang terdengar sumbang. "Apa kau bilang, gembel?! Kau pikir asisten rendahan sepertimu tahu apa s
Kekacauan di ruang makan perlahan mulai mereda setelah Clarissa dan Dion meninggalkan ruangan dengan wajah menahan malu dan amarah. Para pelayan lain segera bergegas masuk dengan lap dan alat pel, membantu membersihkan tumpahan air es dan memunguti pecahan gelas kristal yang berserakan di atas lantai marmer.Ratih masih berdiri di samping kursi kehormatan. Tangannya dengan lembut dan penuh perhatian mengusap punggung neneknya yang mulai bernapas dengan normal."Eyang sudah tidak apa-apa?" tanya Ratih dengan nada khawatir yang tulus, memastikan sisa-sisa energi negatif itu tidak lagi menyakiti sang matriark.Sang Eyang menarik napas panjang. Rongga dadanya yang beberapa menit lalu serasa tercekik, kini terasa jauh lebih longgar dan segar."Sudah tidak apa-apa, Tih. Tiba-tiba saja Eyang langsung enakan," jawab Eyang Putri dengan suara yang masih sedikit serak. Mata rentanya yang tajam kemudian melirik ke arah Kukuh yang sedang berjongkok memunguti serpihan kaca dalam diam. "Dan ini... k
"Kalian semua benar-benar harus menyempatkan diri mampir ke resor terbaru yang baru saja diresmikan Dion di Seminyak bulan lalu. VVIP lounge-nya didesain khusus oleh arsitek dari Milan. Tentu saja, pelayanan untuk keluarga sendiri pasti akan kami bedakan," suara Clarissa mengalun dengan nada merdu yang sengaja ditinggikan, memastikan setiap pasang telinga menangkap pameran kesuksesannya."Ah, tentu saja, Cla. Nanti paman dan bibi atur jadwal ke Bali kalau urusan bisnis di Jakarta sudah beres," sahut salah satu kerabat dengan senyum basa-basi yang kental akan formalitas."Iya, lagipula Dion kan memang selalu punya selera yang tinggi," timpal kerabat lainnya menyanjung.Ruang makan utama mansion Keluarga Cokro siang itu dipenuhi oleh keriuhan yang elegan. Ruangan raksasa bergaya klasik Eropa tersebut memancarkan kemewahan dari setiap sudutnya. Sebuah meja kayu mahoni panjang yang bisa menampung tiga puluh orang membentang di tengah ruangan, dihiasi oleh peralatan makan perak dan gelas k
Untuk pembaca saya, update akan OFF hingga tanggal 17 dan akan di update lagi di tanggal 18 Terimakasih.
Jumat pagi menjelang akhir pekan, kediaman utama Keluarga Cokro sudah sibuk sejak matahari baru saja terbit. Arisan Keluarga Besar yang diadakan setiap dua tahun sekali ini bukanlah sekadar ajang silaturahmi, melainkan medan pamer kekayaan dan unjuk gigi bagi seluruh cabang silsilah keluarga konglomerat tersebut.Berbagai mobil mewah mulai berbaris memasuki pelataran rumah. Para kerabat jauh, paman, bibi, hingga sepupu-sepupu Ratih yang menetap di luar kota mulai berdatangan untuk menginap.Kukuh, yang menyadari posisinya di mata keluarga besar, memilih mengenakan kemeja rapi yang sederhana. Ia berdiri di dekat pilar garasi bersama Pak Supri, membantu mengarahkan barang bawaan para tamu agar tidak menghalangi jalan.Tak lama kemudian, sebuah sportscar Eropa berwarna merah menyala dengan suara mesin yang memekakkan telinga memasuki pelataran. Pintu mobil terbuka ke atas. Dari kursi penumpang, turunlah Clarissa sepupu Ratih dari cabang keluarga kedua yang terkenal paling suka mencari pe
Malam harinya, setelah hiruk-pikuk aktivitas siang yang melelahkan, Kukuh menepati janjinya kepada Pak Supri. Berbekal pakaian kasualnya yang sederhana, Kukuh menemani sopir paruh baya itu menyusuri keramaian Pasar Loak.Lampu-lampu bohlam kuning yang temaram menerangi deretan lapak yang digelar di atas terpal plastik. Udara malam dipenuhi oleh aroma debu, karat, dan suara musik dangdut dari radio usang para pedagang. Pak Supri tampak sangat antusias, matanya berbinar-binar saat ia berjongkok di salah satu lapak untuk menawar sebuah radio kayu antik peninggalan era 80-an."Kuh, kamu lihat-lihat saja dulu di sekitar sini. Bapak mau adu tawar sama pedagang ini, kayaknya radionya masih bisa bunyi!" seru Pak Supri tanpa menoleh, terlalu fokus pada barang buruannya."Siap, Pak. Saya muter di dekat-dekat sini saja," balas Kukuh santai.Kukuh melangkah pelan meninggalkan Pak Supri. Tangannya masuk ke dalam saku jaket. Di tengah tumpukan barang rongsokan dan barang antik palsu yang membanjiri
"Ya, benar apa yang dikatakan Agus, Nak Kukuh," tambah Eyang Bayu Manik Waja dengan suara berat yang mengalun tenang. "Seingat saya dari catatan kuno para leluhur, keluarga Sekar Taji dan keluarga Cokro sebenarnya berasal dari silsilah awal yang berpangkal pada rahim ibu yang sama, namun mereka lah
Setelah membelah kemacetan Jakarta yang terik selama satu setengah jam, mobil MPV mewah yang dikemudikan Pak Supri akhirnya perlahan memperlambat lajunya. Mobil itu memasuki jalur khusus dan berhenti tepat di depan lobi mewah yang menjadi pintu masuk VIP pameran perhiasan mewah di JIExpo Kemayoran.
Jari polisi itu gemetar hebat saat menekan tombol terima di layar ponselnya. Belum sempat ia mengucapkan salam pembuka, sebuah suara bariton yang sangat menggelegar meledak dari seberang panggilan itu adalah suara Kapolda, pimpinan tertingginya di kepolisian provinsi ini."Kamu bosan hidup atau bosa
Pintu berukir rumit itu berderit pelan saat dibuka, membawa Kukuh dan Dokter Adhi masuk ke dalam Perpustakaan Atas milik keluarga Lohitajaya. Aroma kertas perkamen tua yang khas, berpadu dengan wangi dupa cendana dan ramuan herbal kering, seketika memenuhi rongga hidung Kukuh. Ruangan melingkar itu







