Kukuh menatap lekat kartu nama beraroma lavender di telapak tangannya. Nama Pratiwi dan deretan angka di sana tercetak timbul dengan tinta emas. Jemari Kukuh mengusap permukaan kartu itu perlahan sebelum ia mengangkat wajahnya."Terima kasih atas tawarannya yang sangat luar biasa ini, Bu Manajer," ucap Kukuh tulus, memasukkan kartu itu ke dalam saku kemejanya dengan hati-hati.Namun, tepat setelah kartu itu masuk ke saku, suhu di sekitar Kukuh seolah menurun drastis. Sorot matanya yang semula tenang kini meredup, menyisakan kilatan dingin yang berbahaya."Tapi sebelum saya memikirkan pekerjaan baru, saya harus menyelesaikan sebuah perhitungan dengan Tuan Adiwangsa," lanjut Kukuh. Suaranya pelan, nyaris seperti bisikan, tapi setiap suku katanya mengandung amarah yang tertahan. "Dia sudah menipu saya, dan di keluarga saya, pengkhianatan harus dibayar lunas."Merasakan aura intimidasi yang mendadak menguar dari pemuda itu, Pratiwi sedikit terkesiap. Namun anehnya, ia sama sekali tidak me
Last Updated : 2026-04-16 Read more