LOGINDi depan cermin besar setinggi dua meter, Pak Geger, sang penata busana keluarga, dengan telaten menepuk debu imajiner dari bahu tegap Kukuh. Ia merapikan kerah jas hitam bespoke berlapis sutra di bagian dalamnya, memastikan potongannya jatuh sempurna mengikuti lekuk tubuh pemuda itu.
"Bagaimana, Mas Kukuh? Nyaman jasnya?" tanya P
Di Lantai 41 RS Lohitajaya, alarm berbunyi."Mas!" Manager Pratiwi berlari masuk ke ruang rapat. Wajahnya tegang. "Seluruh Jakarta kehilangan listrik. Bukan pemadaman biasa. Energinya tersedot ke satu titik.""Kuningan," ucap Kukuh. Tidak bertanya. Mengetahui."Ya." Pratiwi mengangguk. "Bhanu sudah mulai."Kukuh berdiri. Semua orang di ruangan itu berdiri bersamanya. Kyai Agus. Bima. Resti. Ratih. Dokter Harsha. Dokter Adhi."Dia tidak menyerang kota secara langsung," ucap Kukuh. Suaranya datar. Tenang. Tapi ada sesuatu di baliknya. Sesuatu yang tajam. "Dia menarik energi kota untuk membuka sesuatu. Sebuah arena.""Arena?" tanya Bima."Dimensi pertarungan." Kukuh menatap jendela. Menatap langit Jakarta yang mulai berubah warna. Dari jingga menjadi merah. Dari merah menjadi hitam. "Bhanu tidak mau membunuh orang awam. Dia bukan pembantai. Dia prajurit. Dan prajurit tidak menyerang warga sipil. Dia menyerang lawannya. Di tempat yang sudah disiapkan.""Bagaimana kau tahu?" tanya Kyai Agu
Ruang rapat Lantai 41 tidak pernah terlihat seperti ini.Meja bundar besar di tengah ruangan sudah dikelilingi kursi. Bukan kursi dokter. Bukan kursi perawat. Kursi-kursi yang ditarik dari berbagai sudut rumah sakit. Dan di setiap kursi, duduk seseorang yang tidak pernah duduk bersama di satu ruangan.Kukuh berdiri di ujung meja. Di sampingnya, Ratih. Di belakang mereka, Dokter Harsha dan Dokter Adhi.Pintu terbuka.Kyai Agus Sapto Joyo masuk pertama. Pria paruh baya dengan tubuh tegap dan tangan yang penuh kapalan. Rajah Wesi Gen Dua Puluh Dua. Di lengannya, ukiran besi cair menyala samar di balik lengan baju yang digulung."Kuh," ucap Kyai Agus. Mengangguk. Satu kali. Tidak perlu kata-kata lebih."Kyai." Kukuh mengangguk balik. "Terima kasih sudah datang.""Aku sudah menunggu momen ini selama dua puluh tahun." Kyai Agus duduk. "Rajah Wesi siap."Pintu terbuka lagi.Bima Kanaka Kencana masuk. Kemeja sutra putih sudah diganti dengan kaos hitam sederhana. Tidak ada jam tangan emas. Tid
"Kukuh Jaya Ludira. Aku dengar kau sudah kembali. Dan aku dengar kau membuat Mayor Yudha jatuh terduduk di lobimu sendiri. Lucu."Kukuh tidak bereaksi. Tidak tersenyum. Tidak mengernyit. Hanya membaca."Tapi itu tidak mengubah apa pun. Kau sudah lengkap, bukan? Aku bisa merasakannya dari sini. Ukiranmu sudah penuh. Darahmu sudah utuh. Kau sudah menjadi apa yang ayahmu tidak pernah mau jadi."Kukuh meletakkan ponselnya di atas meja. Menatap layar monitor. Menatap data pasien yang masih terbuka.Ponselnya bergetar lagi."Tiga hari. Aku akan membakar kotamu. Bukan rumah sakitmu. Bukan mansionmu. Kotamu. Seluruhnya. Setiap gedung. Setiap jalan. Setiap orang yang berdiri di belakangmu."Kukuh menarik napas. Menghembuskannya."Dan kali ini, aku tidak datang sendiri. Ayahku sudah menyiapkan semuanya. Dua puluh tahun dia menunggu untuk ini. Dan aku tidak akan mengecewakannya."Pesan terakhir."Tiga hari, Kukuh. Nikmati malammu selagi bisa."Kukuh menatap layar ponselnya. Lama.Lalu mengangkat
Lobi RS Lohitajaya terasa seperti ruang interogasi.Mayor Yudha duduk di sofa kulit sudut lobi. Kakinya disilangkan. Ia menatap jam tangannya, lalu menatap Manager Pratiwi dan Dokter Adhi yang berdiri di dekat meja resepsionis."Lima jam empat puluh menit," ucap Mayor Yudha. Suaranya menggema di lobi yang sunyi. "Waktu kalian semakin habis."Pratiwi mengepalkan tangannya. "Mas Kukuh sudah kembali. Dia akan segera turun."Mayor Yudha tertawa kecil. Tawa yang kering dan meremehkan. "Kukuh Jaya Ludira? Pewaris Rajah Getih yang hebat itu? Minggu lalu aku melihatnya terbaring di ranjang dengan luka bakar di sekujur tubuh. Dia bahkan tidak bisa berdiri tanpa bantuan selang infus. Dan kalian mengandalkan orang seperti itu untuk melawan Bhanu Wahnindara?"Yudha berdiri. Merapikan kerah seragam militernya. Di lehernya, tidak ada lagi jimat-jimat pelindung yang biasa diberikan oleh Ki Karto. Guru spiritualnya itu sudah gila. Dan tanpa jimat itu, Yudha hanyalah seorang perwira militer biasa yang
"S-selamat pagi, Pak. Ada yang bisa.....""Tutup rumah sakit ini."Tiga kata. Datar. Final. Tanpa penjelasan. Tanpa negosiasi.Resepsionis membeku. "M-maaf, Pak?"Mayor Yudha tidak mengulang. Tidak perlu. Ia hanya mengeluarkan selembar kertas dari saku jasnya. Meletakkannya di meja resepsionis. Kertas dengan kop resmi. Stempel merah. Tanda tangan yang tidak bisa dipalsukan."Surat perintah penutupan sementara RS Lohitajaya. Alasan: ancaman keamanan nasional. Efektif mulai hari ini. Semua pasien harus dievakuasi dalam waktu enam jam."Resepsionis menatap kertas itu. Menatap Mayor Yudha. Menatap dua belas pasukan di belakangnya. Dan menelan ludah."T-tapi, Pak. Kami punya pasien di ruang ICU. Pasien yang tidak bisa dipindahkan sembarangan. Kalau kami menutup.....""Itu bukan masalah saya." Mayor Yudha memotong. Suaranya tidak meninggi. Tidak mengeras. Justru sebaliknya. Turun. Lebih pelan. Lebih dingin. "Itu masalah kalian. Enam jam. Setelah itu, saya tidak peduli siapa yang masih di da
Pagi itu, Kukuh melangkah masuk ke lobi RS Lohitajaya.Kemeja kerja sudah terpasang rapi. Perban di lengannya sudah diganti. Wajahnya masih pucat, tapi matanya jernih. Langkahnya stabil. Tidak terburu-buru. Tidak ragu.Di lobi, Ratih sudah menunggu.Berdiri di samping meja resepsionis. Kemeja sutra abu-abu. Rambut diikat rapi. Mata sedikit sembab karena kurang tidur. Tapi punggungnya tegak. Tangannya tidak gemetar.Ratih menatap Kukuh. Lama.Lalu berjalan mendekat. Tidak berlari. Tidak berteriak. Hanya berjalan. Satu langkah demi satu langkah. Sampai ia berdiri tepat di depan suaminya."Kau pulang," ucap Ratih."Aku janji."Ratih tersenyum. Kecil. Tulus. Lalu memeluk Kukuh. Erat. Tidak lama. Hanya beberapa detik. Tapi cukup."Kau berbeda," bisik Ratih di telinga Kukuh. Suaranya pelan. Hanya untuk mereka berdua."Apa yang berbeda?""Semuanya." Ratih melepaskan pelukan. Menatap Kukuh. "Matamu. Langkahmu. Cara kau bernapas. Semuanya berbeda."Kukuh tidak menjawab. Hanya tersenyum."Di ma
"Bagaimana keputusanmu?"Suara Adiwangsa memecah keheningan ruang direktur yang dingin . Di matanya, pemuda berseragam biru muda di depannya ini tak lebih dari seekor semut yang kebetulan sedang ia butuhkan.Kukuh menunduk menatap pantulan wajahnya sendiri di meja kayu yang mengilap. Pikirannya ber
Kantor pusat Grup Aji Saka menempati lantai empat puluh tujuh. Nama gedungnya saja sudah cukup membuat nyali kaum rendahan ciut sebelum mereka berani melewati pintu putar lobi.Di dalam ruang direktur yang mewah, Adiwangsa berdiri kaku menghadap jendela selebar dinding . Melihat ibu kota Jakarta ya
"Ini kegilaan."Dian mendesis tajam, buku-buku jarinya memutih mencengkeram tepi meja mahoni . Suaranya tidak melengking seperti yang biasa ia gunakan untuk mendominasi rapat keluarga, melainkan serak dan mendidih oleh amarah yang tertahan . "Ayah pasti sudah benar-benar kehilangan akalnya di detik
Jam digital di dasbor mobil mewah itu menunjukkan pukul sebelas tiga puluh malam. Di kursi penumpang, Kukuh duduk tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh hawa menyeramkan di luar sana.Mobil itu berguncang membelah jalan berbatu yang sempit. Hutan pinus di kanan kiri mereka berdiri rapat, mengha







