Kukuh masih berdiri di posisi yang sama, menatap mertuanya dengan sorot mata yang sulit diartikan. Meski ia baru saja dihina dan ditampar, suaranya tetap tenang dan terjaga."Tapi Pak Adiwangsa, saya rasa di rumah sakit itu mungkin menyimpan layanan khusus untuk kasus seperti ini," ujar Kukuh dengan nada sopan, mencoba memberikan pertimbangan rasional terakhir.Namun, Adiwangsa sama sekali tidak bergeming. Baginya, suara Kukuh tak lebih dari gangguan angin lalu. Ia bahkan tidak sudi menoleh ke arah menantunya itu. Fokusnya tersedot sepenuhnya pada napas Ratih yang semakin pendek dan berat."Met! Ambilkan ponselku di meja depan! Aku coba hubungi Mbah Jo Menggok..." perintah Adiwangsa cepat, suaranya parau karena panik."Baik, Tuan!" Slamet segera berlari keluar kamar, langkah kakinya terdengar terburu-buru di lorong. Tak lama kemudian, ia kembali dengan membawa ponsel milik tuannya. "Ini Tuan, ponselnya."Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Adiwangsa menyambar ponsel itu. Ia meng
Last Updated : 2026-04-24 Read more