Pria tua yang tubuhnya dipenuhi rajah besi murni itu perlahan tersenyum. Nyala api dari perapian memantul pada guratan perak di wajah dan lehernya, memberikan kesan mistis yang sangat kental. Ia menoleh ke arah mereka bertiga."Duduklah kalian bertiga. Kemarilah," ucap Eyang Bayu dengan suara yang serak namun bergema dalam, seolah menyatu dengan udara di ruangan tersebut.Kukuh, Ratih, dan Jaka perlahan melangkah mendekat, lalu duduk bersila di atas tikar pandan yang mengelilingi perapian.Mata kakek itu menatap lurus, lalu ia mengangkat jarinya yang kurus, menunjuk ke arah Kukuh. "Pasti kamu yang namanya Kukuh?""Benar, Kakek. Nama saya Kukuh," jawab pemuda itu tenang. Ia menundukkan kepalanya sedikit. "Saya juga ingin berterima kasih atas pertolongan Anda melalui Pak Jaka, ketika saya dihajar oleh preman di pasar loak malam itu."Eyang Bayu terkekeh pelan. Ia menggelengkan kepalanya. "Tidak, Nak. Bukan kamu yang harus berterima kasih, tapi aku yang seharusnya berterima kasih kepadam
Last Updated : 2026-04-21 Read more