MasukKeheningan di ruangan itu terasa semakin pekat. Suara gemeretak kayu bakar yang dilahap api menjadi satu-satunya sumber suara sebelum Eyang Bayu akhirnya memecah kesunyian. Matanya yang tajam menatap Kukuh dengan penuh selidik."Tahu dari mana kamu tentang teluh itu, Le?" tanya Kakek Bayu, nadanya menyiratkan keheranan yang mendalam. "Seingatku, kakek dari kakekku dulu hanya pernah bercerita bahwa ada orang yang terkena Teluh Areng ini, namun keluargaku tidak pernah tahu detailnya seperti apa dan bagaimana cara kerjanya. Lantas, bagaimana pemuda sepertimu bisa tahu sejelas itu?"Kukuh membalas tatapan penguasa Rajah Wesi itu tanpa berkedip. Otaknya bekerja kilat menyusun alibi yang tidak akan membongkar identitas aslinya sebagai pewaris murni Rajah Getih."Satu minggu setelah saya menikah dengan Ratih, saya diutus oleh Nyonya Dian untuk mengantar sebuah ramuan khusus," Kukuh mulai bercerita, suaranya tenang dan meyakinkan. "Awalnya saya tidak tahu untuk apa ramuan berbau aneh itu. Nam
Pria tua yang tubuhnya dipenuhi rajah besi murni itu perlahan tersenyum. Nyala api dari perapian memantul pada guratan perak di wajah dan lehernya, memberikan kesan mistis yang sangat kental. Ia menoleh ke arah mereka bertiga."Duduklah kalian bertiga. Kemarilah," ucap Eyang Bayu dengan suara yang serak namun bergema dalam, seolah menyatu dengan udara di ruangan tersebut.Kukuh, Ratih, dan Jaka perlahan melangkah mendekat, lalu duduk bersila di atas tikar pandan yang mengelilingi perapian.Mata kakek itu menatap lurus, lalu ia mengangkat jarinya yang kurus, menunjuk ke arah Kukuh. "Pasti kamu yang namanya Kukuh?""Benar, Kakek. Nama saya Kukuh," jawab pemuda itu tenang. Ia menundukkan kepalanya sedikit. "Saya juga ingin berterima kasih atas pertolongan Anda melalui Pak Jaka, ketika saya dihajar oleh preman di pasar loak malam itu."Eyang Bayu terkekeh pelan. Ia menggelengkan kepalanya. "Tidak, Nak. Bukan kamu yang harus berterima kasih, tapi aku yang seharusnya berterima kasih kepadam
Udara malam Jakarta terasa semakin dingin ketika Kukuh dan Ratih melangkah keluar dari lobi utama kediaman Adhi Tosan. Pesta di dalam masih berlangsung riuh, namun Kukuh merasa sudah cukup menunaikan tugasnya sebagai "suami pajangan". Ratih berjalan di sampingnya dengan wajah yang masih sulit ditebak; matanya terus menatap ke depan, sibuk dengan pikirannya sendiri.Tepat saat mereka tiba di dekat mobil sedan yang diparkir Pak Supri, sesosok pria berkacamata dengan setelan rapi sudah berdiri menunggu."Tuan Kukuh," sapa Pak Jaka sambil menunduk hormat. "Bagaimana pestanya malam ini?""Saya senang, Pak Jaka. Terima kasih atas suguhan dan pestanya yang luar biasa," balas Kukuh dengan tenang dan sopan.Jaka tersenyum simpul, lalu melangkah selangkah lebih dekat. Nada suaranya berubah sedikit lebih rendah dan serius. "Bagaimana, Tuan Kukuh? Apa Anda bersedia untuk bertemu dengan Eyang Bayu malam ini?"Kukuh tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah Ratih yang berdiri di sebelahnya. Meski
Ratih mematung di tempatnya berdiri, jemarinya yang lentik tanpa sadar meremas pinggiran gaun malamnya. Matanya yang abu-abu tak berkedip menatap punggung tegap Kukuh. Di dalam benaknya, badai pertanyaan berkecamuk hebat.Bagaimana bisa? tanya Ratih dalam hati.Selama ini, ia menganggap perjodohan yang dipaksakan oleh mendiang Kakek Cokro hanyalah sisa-sisa halusinasi pria tua yang mulai pikun. Ia merasa martabatnya sebagai primadona keluarga Aji Saka telah diinjak-injak dengan menikahi pemuda desa yang ia anggap tak punya masa depan. Namun, melihat pemandangan malam ini bagaimana Kukuh mendikte pengetahuan tentang pusaka di depan pewaris klan Rajah Wesi Ratih mulai meragukan penilaiannya sendiri. Apakah kakeknya melihat sesuatu yang tak bisa dilihat oleh orang lain? Apakah pria di depannya ini benar-benar sebuah rahasia besar yang sengaja disembunyikan dalam balutan pakaian lusuh?Di atas panggung, Adhi Tosan masih menatap bilah keris hitam itu dengan napas tertahan. Ia menoleh ke ar
Suasana canggung yang menyelimuti kelompok Ratih perlahan mencair ketika perhatian seluruh aula beralih ke arah panggung utama. Alunan musik klasik yang sedari tadi mengalun lembut mendadak berhenti, digantikan oleh sorot lampu utama yang memusat pada sosok pemuda tampan berkemeja burgundy yang baru saja melangkah naik.Dia adalah Adhi Tosan Awang Awang, putra dari Kyai Agus Sapto Joyo, sekaligus pewaris Generasi 23 dari klan Rajah Wesi."Selamat malam, rekan-rekan semua," sapa Adhi dengan suara bariton yang karismatik, disambut riuh tepuk tangan para tamu elit. "Terima kasih sudah hadir di perayaan kecil saya malam ini. Seperti tradisi keluarga kami, puncak acara malam ini bukanlah tiup lilin, melainkan pameran dari koleksi pusaka terbaru yang berhasil keluarga kami dapatkan."Empat orang penjaga berbadan tegap mendorong sebuah meja beroda yang di atasnya terdapat kotak kaca tebal. Di dalam kotak itu, terbaring sebilah keris kuno tanpa sarung. Bilahnya berwarna hitam kelam dengan pol
Tinju raksasa itu membeku tepat di depan hidung Kukuh. Namun, yang menahannya bukanlah sebuah tameng besi atau kepalan tangan lain, melainkan hanya selembar amplop undangan berbahan kertas tipis yang dipegang secara vertikal."Pak Jaka?" batin Kukuh, sedikit mengernyit saat mengenali sosok yang tiba-tiba berdiri di sisinya.Pria dengan kacamata berbingkai hitam dan ekspresi datar itu menatap teman Deri dengan sorot mata yang membuat bulu kuduk siapa pun meremang. Udara di sekitar mereka seolah tersedot habis, menyisakan tekanan berat yang menyesakkan."Apa yang ingin kamu lakukan, anak muda?" tanya Jaka. Suaranya rendah, namun bergema dengan otoritas yang tak terbantahkan.Seketika, wajah Deri dan kedua temannya berubah pucat pasi, nyaris seputih kapas. Kesombongan yang tadi meluap-luap lenyap tak bersisa, digantikan oleh ketakutan absolut yang membuat lutut mereka gemetar. Mereka sangat tahu siapa pria di depan mereka: algojo sekaligus otak di balik kejayaan klan Rajah Wesi saat ini.







