Share

Bab 39

Author: Millanova
last update publish date: 2026-04-19 21:09:23

Ratih tersentak dan segera menoleh ke belakang. Di sana, berdiri tiga orang pemuda dengan setelan jas branded yang memancarkan aura kesombongan absolut. Di posisi tengah, dengan senyum miring yang meremehkan, berdiri Deri. Ia adalah kawan akrab Handoko sepupu jauh Ratih dari cabang keluarga Teja Arum yang memang sejak dulu mengincar Ratih.

Menyadari siapa yang berbicara, Ratih bukannya marah karena suaminya dihina. Ia justru memasang senyum manis, berusaha mencairkan suasana.

"Ohh... hai, Deri,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 314

    "Gis, sumpah deh, ini kendi makin lama kok rasanya makin panas ya? Tadi di basecamp cuma anget biasa, sekarang telapak tanganku sampai kemerahan lho."Keluhan Farhan memecah keheningan hutan pinus yang mulai mencekam. Farhan berjalan tertatih di tengah barisan, sesekali memindahkan kendi tanah liat itu dari tangan kanan ke kiri karena tak kuat menahan hawa panas yang menjalar.Di depannya, Gisella menghentikan langkah, membalikkan badan. Sorot cahaya lilin yang dibawa Kukuh di barisan belakang menyorot wajah Gisella jelas terlihat raut ketidakpercayaan dan sedikit kekesalan."Farhan, kamu ini mahasiswa kedokteran, tolong pakai logikamu," tegur Gisella tegas. "Kendi itu terbuat dari tanah liat. Tanah liat konduktor panas yang buruk. Tidak mungkin suhunya naik sendiri di udara gunung yang di bawah lima belas derajat Celcius begini. Itu murni sugesti karena kamu ketakutan dan gugup sejak awal.""Tapi beneran, Gis! Ini panas banget, kayak ada air mendidih di dalamnya!" bantah Farhan, meny

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 313

    "Han, kamu yang bawa kendi sesajennya, aku yang pegang kompas. Kukuh, kamu yang pegang lilin dan jaga barisan di belakang," instruksi Gisella sambil merapatkan ritsleting jaket gunungnya."Lah, kok aku yang disuruh bawa kendi klenik ini sih, Gis? Aku kan nggak biasa pegang barang-barang mistis begini!" protes Farhan, suaranya tertahan. Kacamata Farhan sedikit berembun kena uap napasnya sendiri yang memburu karena gugup."Karena kendi itu barang yang paling ringan, Farhan," balas Gisella, nadanya pragmatis. "Tanganmu dari tadi gemetar terus. Kalau kamu yang pegang lilin, apinya bisa mati tertiup angin dari tanganmu yang gemetaran itu. Lilin mati berarti kita melanggar aturan senior. Logis, kan?"Farhan mengerucutkan bibir, tak bisa membantah logika tajam Gisella. Farhan menoleh ke Kukuh dengan tatapan memelas. "Kuh, kamu aja deh yang bawa kendinya. Kamu kan anak desa, pasti udah biasa sama bau-bau kembang telon begini, kan?"Kukuh tersenyum kecil, memainkan perannya natural. "Nggak apa

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 312

    "Gila, rasanya tulangku mau rontok semua. Kaki ini rasanya udah nggak napak di tanah," keluh Farhan sambil memijat betisnya. Farhan duduk merosot di atas matras tipis dekat api unggun yang menyala terang. Asap kayu bakar yang mengepul tak cukup mengusir hawa dingin yang menusuk tulang."Minum dulu hangat-hangat, Han. Biar ototnya sedikit rileks," ucap Kukuh, menyodorkan gelas kaleng berisi teh manis hangat. Wajah Kukuh biasa saja, tanpa gurat kelelahan berlebih konsisten dengan peran pemuda desa yang sudah terbiasa fisik berat."Makasih, Kuh. Gila ya, tiga hari digojlok fisik begini, rasanya aku mau resign aja dari Mapala," rutuk Farhan sebelum menyeruput tehnya perlahan, menggigil sedikit.Di sebelah mereka, Gisella duduk meluruskan kaki yang terbalut celana kargo, sibuk membetulkan balutan perban di telapak tangan yang lecet akibat tersandung akar tempo hari. Wajahnya lelah dan sedikit memucat karena udara dingin, tapi sorot matanya tetap tajam, menolak menyerah."Jangan cengeng, Fa

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 311

    "Gila, dingin banget hawanya! Padahal kita baru sampai di lerengnya doang," keluh Farhan sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Gigi pemuda berkacamata itu bergemeretak menahan udara malam pegunungan yang menusuk."Namanya juga kawasan pegunungan Batu, Han. Angin yang turun dari celah hutan pinus di sini memang lumayan bikin menggigil," jawab Kukuh santai. Ia menurunkan ransel carrier berkapasitas enam puluh liter dari punggungnya dan meletakkannya di atas tanah berumput."Kamu kok kelihatan biasa aja sih, Kuh? Nggak kedinginan apa?" Farhan menatap sahabatnya itu dengan heran."Aku kan dari desa. Sudah biasa kena angin malam begini," Kukuh tersenyum lugu, merajut alibinya dengan sempurna. Tentu saja, hawa dingin ini sama sekali tidak bisa menembus sirkulasi energi Rajah Getih di dalam tubuhnya.Mereka baru saja tiba di basecamp Pendidikan Dasar (Diksar) Mapala Universitas Mahkota setelah beberapa minggu mereka mendaftar UKM itu. Area lapang yang dikelilingi rimbunnya pohon

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 310

    "Kuh, ayolah! Kamu masa kuliah cuma numpang lewat dari gerbang ke kelas, terus lanjut kerja paruh waktu yang nggak jelas itu? Sekali-kali ikut UKM biar ada pengalaman!" seru Farhan sambil menarik-narik lengan kemeja Kukuh di tengah keramaian halaman kampus."Bukannya aku nggak mau, Farhan. Jadwalku kan lumayan padat," jawab Kukuh santai.Pemuda itu baru saja melewati malam yang menegangkan membereskan pengkhianatan Manajer Hendra di perusahaan mertuanya. Membayangkan harus menambah kegiatan kampus setelah mengirim seseorang ke Jagalan terasa sedikit merepotkan."Padat apanya? Ayolah, Mapala kita ini terkenal sering bikin ekspedisi keren. Dengar-dengar bulan depan agendanya eksplorasi jalur pendakian di sekitar kawasan Batu. Kamu tahu kan daerah Batu? Udaranya sejuk banget, lanskap pemandangannya luar biasa, belum lagi area hutannya yang masih asri! Kapan lagi kita bisa jalan-jalan eksplorasi alam gratis?" bujuk Farhan dengan mata berbinar-binar penuh harap.Kukuh terdiam sejenak. Meny

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 309

    Pagi itu, suasana di ruang kerja pribadi Adiwangsa di mansion keluarga Cokro terasa lebih tegang dari biasanya. Tirai tebal burgundy dibiarkan setengah tertutup, menghalangi cahaya matahari pagi.Kukuh berdiri tenang di seberang meja kerja kayu mahoni raksasa. Di atas meja, tepat di hadapan Adiwangsa, tergeletak kantong plastik kedap udara berisi buntelan kain merah darah yang basah dan masih memancarkan sisa aura hitam."Jadi, maksudmu Manajer Hendra orang yang sudah bekerja di bawah payung perusahaanku selama bertahun-tahun adalah musuh dalam selimut?" tanya Adiwangsa, kening berkerut dalam, nadanya penuh keraguan.Di samping Adiwangsa, Dian yang baru masuk ke ruangan memandangi buntelan merah itu dengan tatapan menyelidik."Benar, Pa," jawab Kukuh datar. "Buntelan ini medium kutukan Rajah Sepi. Kalau saya tidak mengambilnya tepat waktu semalam, seluruh pasokan air murni di tangki utama akan tercemar. Produk skincare yang diluncurkan hari ini tidak akan laku, dan Korporasi Cokro aka

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 2

    Kantor pusat Grup Aji Saka menempati lantai empat puluh tujuh. Nama gedungnya saja sudah cukup membuat nyali kaum rendahan ciut sebelum mereka berani melewati pintu putar lobi.Di dalam ruang direktur yang mewah, Adiwangsa berdiri kaku menghadap jendela selebar dinding . Melihat ibu kota Jakarta ya

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 1

    "Ini kegilaan."Dian mendesis tajam, buku-buku jarinya memutih mencengkeram tepi meja mahoni . Suaranya tidak melengking seperti yang biasa ia gunakan untuk mendominasi rapat keluarga, melainkan serak dan mendidih oleh amarah yang tertahan . "Ayah pasti sudah benar-benar kehilangan akalnya di detik

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 4

    Kres. Kres.Mata gunting rumput itu terus mengunyah dahan tanaman soka. Punggung Kukuh basah oleh keringat . Kontrak gila yang ia tandatangani kemarin kini menjadi kenyataan yang pahit. Di atas kertas triliunan rupiah itu ia adalah suami sang pewaris tahta, namun di atas rumput halaman ini, ia hany

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 3

    "Bagaimana keputusanmu?"Suara Adiwangsa memecah keheningan ruang direktur yang dingin . Di matanya, pemuda berseragam biru muda di depannya ini tak lebih dari seekor semut yang kebetulan sedang ia butuhkan.Kukuh menunduk menatap pantulan wajahnya sendiri di meja kayu yang mengilap. Pikirannya ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status